Pengelolaan program yang berdampak pada murid sebagai upaya dalam mengoptimalkan kemampuan murid. Melalui filosofi pendidikan Ki Hadjar Dewantara dan metafora "menumbuhkan padi" mengingakan kita mengenai proses pembelajaran yang seharusnya berpihak kepada murid melalui kegiatan secara sadar dan terencana untuk membangun ekosistem welbeing sehingga mampu mengembangkan potensi mereka sesuai dengan kodratnya.
A. Pemikiran reflektif terkait pengalaman belajar
Pengalaman/materi pembelajaran yang baru saja diterima berkenaan dengan pengelolaan program yang berdampak pada murid semakin menguatkan peran guru dalam mewujudkan kepemimpinan murid serta pembelajaran yang berpihak kepada murid dengan segala potensi yang dimiliki oleh para murid serta melalui proses pembelajaran yang menumbuhkembangkan Kompetensi Sosial Emosional pada siswa meliputi 1)kesadaran diri, 2) manajemen diri, 3) kesadaran sosial, 4) keterampilan berelasi, dan 5) pembuat keputusan yang bertanggungjawab secara bertahap menjadi sandaran bagi kita sebagai guru dalam proses Tranfer of Value.
Pemahaman tersebut membangun emosi-emosi yang dirasakan selama proses pembelajaran diantaranya kebahagiaan dalam mencoba membangun kepercayaan kepada para murid dalam menentukan keinginan proses belajar yang mereka inginkan serta kebebasan yang diberikan dilakukan sebagai bentuk kominten bagi mereka dalam menjalankan prosesnya dan hal tersebut menjadi sebuah kebanggaan bahwa para murid dapat melakukan seperti yang diharapkan jika mereka melakukan sesuai dengan "hati" sesuai dengan harapan mereka.
Pada proses pembelajaran, para murid dapat mempertahankan apa yang sudah baik menurut mereka dan menjadi sebuah komitmen bagi diri mereka sendiri sehingga tidak ada merasa "terpaksakan" saat belajar kendati tentunya hal ini memerlukan proses yang bertahap dengan segala karakter unik yang dimiliki oleh para murid sehingga sebagai guru memerlukan sebuah pemikiran yang matang dalam memberikan waktu bagi para murid untuk berproses terhadap diri mereka sendiri.
Beberapa hal yang perlu diperbaiki terkait keterlibatan para murid dalam proses belajarnya adalah kemampuan dalam memahami potensi baik minat maupun bakatnya juga termasuk memahami dirinya dalam kemampuan bidang akademiknya, sehingga para murid dapat fokus terhadap prioritas apa yang diharapkan oleh diri mereka sendiri sebagai bentuk "keyakinan diri" terhadap nilai positif yang dimiliki dan perlu untuk dikembangkan.
Implikasi dari apa yang sudah diyakini dan dilaksanakan oleh para murid tentunya berimbas terhadap kompetensi dan kematangan diri pribadi sebagai individu yang sudah mampu mengambil keputusan yang bertanggungjawab melalui proses negosiasi terhadap dirinya sendiri melalui kesadaran yang dimiliki serta negosiasi terhadap lingkungan sekitarnya yang mengasah kemampuan dan keterampilan sosialnya.
B. Analisis untuk Implementasi dalam konteks CGP
Sebenarnya apa yang dimaksud dengan Pengelolaan Program yang berdampak pada murid?
Pertanyaan ini muncul sebagai bentuk untuk mencari jawaban mengenai pentingnya pengembangan kompetensi para murid dalam keterlibatannya terhadap program-program baik intra kurikuler, ko kurikuler dan ekstrakurikuler yang dapat mendukung potensi kepemipinan bagi murid. Program yang mampu memberikan kesempatan kepada para murid dalam mengembangkan kapasitasnya dalam mengelola pembelajaran mereka sendiri. Mendorong kepemimpinan murid dapat membentuk karakter individu murid yang lebih bertanggung jawab, kontributif tetapi juiga mengasah kemampuan kolaboratif yang dapat dijadikan sebagai pengalaman bermakna yang mungkin dapat dirasakan kebermanfataannya secara luas.
Pemahaman materi terhadap apa yang sudah dipelajari oleh para murid seyogyanya dapat memiliki wawasan yang lebih luas ataupun "insight" baru dalam bidang keilmuan tertentu sehingga membantu para murid terhadap kondisi kontekstual yang ada di lingkungan sekolah.
Tantangan yang dihadapi dalam menumbuhkembangkan kepemimpinan murid di sekolah adalah keberagaman siswa yang banyak dengan berbagai karakter yang dimiliki termasuk latarbelakang para murid baik lingkungan keluarga maupun sosial masyarakat di sekitar tempat tinggalnya. Sehingga tentunya asesmen pra pembelajaran diperlukan bagi guru yang dapat dijadikan sebagai dasar bagi guru dalam membuat stratetegi pembelajaran melalui pendekatan atau model dan metode pembelajaran yang sesuai. Pengelolaan melalui pembelajaran terdiferensiasi diharapkan dapat menjembatani kebutuhan para murid dalam mengembangkan potensi belajarnya serta mampu memberikan kontribusi dirinya terhadap lingkungan belajarnya. Kolaborasi rekan sejawat diperlukan dalam menyamakan visi terhadap proses pembelajaran yang diharapkan bersama.
Dalam mewujudkan jawaban terhadap tantangan yang dimiliki tentunya kolaborasi internal sekolah melalui rekan sejawat yaitu MGMP ataupun di lingkungan yang lebih luas yaitu MGMP Kota maupun Provinsi dalam bentuk sharing praktik baik terhadap praktik-praktik kepemimpinan para murid.
3. Intisari materi
Kepemimpinan murid
(student agency) merupakan salah satu Upaya dalam mewujudkan
Profil Pelajar Pancasila, yaitu beriman dan bertakwa serta berakhlak
mulia, berkebinekaan global, mandiri, bergotong royong, bernalar kritis,
dan kreatif. Para murid dapat diwujudkan melalui kepemimpinan dalam proses
pembelajaran yang sebenarnya memiliki suara (voice), pilihan (choice), dan
kepemilikan (ownership). Melalui suara, pilihan, dan
kepemilikan para murid dapat mengembangkan kapasitas dirinya sebagai pemilik dalam
proses belajarnya.
Tugas guru adalah menyediakan lingkungan yangdapat menumbuhkan budaya agar para murid memiliki keleluasaan dalam menyampaikan suara, pilihan, dan kepemilikannya terhadap apa yang mereka pikirkan dan inginkan dengan direfleksikan melalui tindakan mereka. Karakteristik lingkungan yang dimaksudkan dalam menumbuhkembangkan kepemimpinan murid adalah 1) Menyediakan kesempatan untuk murid menggunakan pola pikir positif dan merasakan emosi yang positif, 2) Keterampilan berinteraksi sosial secara positif, 3) Keterampilan dalam proses pencapaian tujuan akademik maupun non-akademik, 4) Menerima dan memahami kekuatan diri, sesama, serta masyarakat dan lingkungan di sekitarnya, 5) Membuka wawasan menentukan dan menindaklanjuti tujuan, harapan atau mimpi yang manfaat dan kebaikannya melampaui pemenuhan kepentingan individu, kelompok, maupun golongan, 6) Menempatkan murid sedemikian rupa sehingga terlibat aktif dalam proses belajarnya sendiri, 7) Menumbuhkan daya lenting dan sikap tangguh murid untuk terus bangkit di tengah kesempitan dan kesulitan.
4. Membuat keterhubungan
Pengalaman masa lalu dalam proses pembelajaran memang dirasakan tingkat kepercayaan terhadap para murid memerlukan banyak pertimbangan, kekurang yakinan terhadap potensi para murid sebenarnya membuat kita terkadang kurang fokus dan lebih banyak mengevaluasi atau "trial n eror" terhadap metode pembelajaran yang disajikan dan cenderung para murid menjadi lebih pasif dan tujuan diharapkan sesuai dengan yang kita inginkan.
Setelah mempelajari dan mengimplementasikan materi-materi yang telah dipelajari selama mengikuti program guru penggerak ini lebih membuka mata hati dan mata diri kita terhadap makhluk ciptaan Allaah SWT yang telah diciptakan dengan segala bentuk kesempurnaannya dan saat penerapan dilakukan mulai dari memberikan kepercayaan kepada para murid dapat dijadikan sebagai bentuk rasa syukur atas kekuasaan Allaah SWT bahwasannya potensi para murid luar biasa dan memudahkan kita dalam berkolaborasi dengan para murid selama proses pembelajaran berlangsung, ketika para murid dilibatkan mulai dari perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi dengan memberikan kesempatan seluas-lulasnya kepada murid memiliki dampak yang cukup besar terhadap paradigma yang selama ini ada dalam benak diri. Para murid memiliki kemampuan serta tanggung jawab yang luar biasa terhadap apa yang mereka rancang dan dikerjakan, mereka lebih memahami mengenai arti tanggung jawab dan konsekuensi.
Modul
1.1. Filosofi Ki Hajar Dewantara
yaitu Guru melalui peran strategisnya dalam menuntun segala kodrat yang dimiliki
oleh anak-anak untuk mencapai kesejahteraan dan menjunjung tinggi nilai-nilai
kemanusaiaan sebagai individu sosial. Dalam pengelolaan program sekolah yang
berdampak pada murid tentunya kita sebagai guru harus dapat melibatkan murid
dan memperhatikan pengembangan potensi sesuai dengan kodrat alam dan kodrat
zamannya melalui pengelolaan cipta, karsa, rasa, dan karya.
Modul
1.2. Nilai dan peran guru penggerak melalui Nilai-nilai dari seorang guru penggerak yaitu
mandiri, reflektif, kolaboratif, inovatif dan berpihak pada murid tidak
terlepas dari cita-cita mulia dalam mewujudkan Profil Pelajar Pancasila. Dalam
menjalankan perannya, seorang guru tidak hanya cukup sebagai pemimpin
pembelajaran di kelas, namun juga memiliki tanggung jawab sebagai pemimpin
dalam pengelolaan program sekolah yang berpihak pada murid dalam mewujudkan
kepemimpinan murid.
Modul 1.3. Visi
guru penggerak dimana
Guru tentunya memiliki visi yang mengarah kepada perubahan, baik perubahan di
kelas atau perubahan di sekolah. Subjek perubahan visi yang dimaksudkan adalah
para murid dengan menggunakan pendekatan
manajemen perubahan. Manajemen pendekatan perubahan disebut Inkuiri Apresiatif
(IA). Dalam merencanakan dan mengelola program yang berdampak pada murid
dilakukan dengan menggunakan pendekatan inkuiri apresiatif model BAGJA dengan memetakan
aset atau sumber daya sekolah, dan mengembangkan aset atau potensi yang bisa
dikembangkan untuk merencanakan program sekolah yang berdampak pada murid.
Modul 1.4. Budaya Positif berupa lingkungan yang dapat menumbuhkembangkan
perkembangan potensi, minat dan profil belajar murid terutama kekuatan kodrat yang
dimilikinya. Pemahaman mengenai hukuman, konsekuensi dan restitusi mampu
menguatkan para guru dalam memahami terhadap pengembangan nilai-nilai budaya
positif kepada para murid.
Modul 2.1. Pembelajaran untuk memenuhi
kebutuhan belajar murid dimana para guru memaksimalkan potensi dalam
pengelolaan kelas dengan keberpihakan kepada murid dengan menggunakan
pembelajaran berdiferensiasi sebagai bentuk layanan “service excellent” dalam
hal proses pembelajaran. Pembelajaran berdiferensiasi dapat menjadi salah satu
solusi terhadap keberagaman karakteristik dan kecerdasan murid. Fokus
pembelajaran tentunya pemenuhan terhadap kebutuhan belajar, minat dan profil
belajar murid. Hal ini dilakukan untuk mengetahui aset atau kekuatan yang
dimiliki oleh murid dalam mewujudkan pengembangan kompetensi yang diharapkan
khususnya penguatan Profil Pelajar Pancasila.
Modul 2.2
Pembelajaran emosional dan sosial melalui
paradigma pembelajaran bukan hanya terbatas pada transfer of knowledge tetapi
juga tranfer of value Guru diharapkan mampu mengembangkan kompetensi sosial
pada diri murid. Teknik kesadaran diri (mindfulness) menjadi strategi
pengembangan lima kompetensi sosial emosional yang didasarkan pada program yang
berpihak pada murid dan mewujudkan merdeka belajar dan budaya positif di
sekolah.
Modul 2.3. Coaching untuk supervisi akademik
sebagai salah satu teknik atau strategi
seorang pemimpin pembelajaran dalam menuntun anak dan menggali potensi yang
dimiliki oleh para murid. Coaching juga
memberikan keleluasaan bagi perkembangan para murid dalam menggali proses
berpikir positif mengenai potensi yang dimiliki. Coaching memiliki tujuan utama
dalam memberdayakan potensi yang dimiliki melalui diskusi rekan sejawat agar
memperoleh pemahaman yang sama dalam menumbuhkan strategi dalam mengembangkan
kepemimpinan murid untuk mencapai tujuan pendidikan yaitu keselamatan dan
kebahagiaan anak setinggi-tingginya.
Modul 3.1. Pengambilan keputusan berdasarkan nilai-nilai kebajikan seorang pemimpin tentunya Guru sebagai seorang pemimpin
pembelajaran diperlukan kemampuan dalam pengambilan Keputusan secara bijak yang
berpihak pada murid. Dasar, prinsip, paradigma atau nilai dalam pengambilan
keputusan harus konsisten, terutama berkaitan dengan dilema etika atau bujukan
moral sehingga menghasilkan Keputusan yang
bertanggungjawab.
Modul 3.2. Pemimpin dalam pengelolaan sumber daya
bahwa Guru sebagai pemimpin pembelajaran tentunya harus memiliki kemampuan
dalam mengidentifikasi asset/modal yang
ada di sekolah, baik aset fisik maupun non fisik untuk keberlangsungan proses
pembelajaran yang berpihak kepada murid. Dengan menggunakan pendekatan berbasis
aset/kekuatan (asset based thinking) mampu mengoptimalkan potensi yang
dimiliki oleh sekolah sebagai komunitas belajar, melalui paradigma berpikir positif
yang dimiliki oleh sekolah terhadap aset yang dimiliki, maka pengelolaan
program yang berdampak pada murid dapat terencana, terlaksana dan terevaluasi dengan
benar melalui kolaborasi bersama.
Modul 3.3. Pengelolaan program yang berdampak positif pada murid sebagai modul terakhir yang menuntun para
guru untuk memiliki pola pikir positif dalam mewujudkan kepemimpinan murid melalui
pertimbangan-pertimbangan serta
kebijakan yang mendukung terhadap visi perubahan melalui dukungan 7 (tujuh)
karakter lingkungan yang dimiliki.
5. Presfektif terhadap Program yang berdampak kepada kepemimpinan murid
Program yang
berdampak positif pada murid tentunya adalah program-program yang mampu
melibatkan kepemimpinan murid (student agency) melalui kesempatan dengan
mempromosikan suara, pilihan dan kepemilikan yang dimiliki oleh para murid
sehingga dapat mewujudkan ekosistem sekolah yang wellbeing. Para murid dengan
berbagai keragaman potensi dan bakat yang dimiliki tentunya dapat tergali dan dituntun untuk mewujudkan
kebahagian yang setinggi-tingginya.
Mengenalkan
program atau kegiatan sekolah mulai dari perencanaan, pelaksanaan dan refleksi
evaluasi dilakukan secara kolaboratif melalui pemberdayaan aset/kekuatan sumber
daya yang dimiliki sekolah sehingga dapat memberikan dampak yang holistik bagi
pengembangan potensi para murid.
Perencanaan
program dapat dilaksanakan berlandaskan prinsip kolaboratif baik dengan para
murid ataupun rekan sejawat melalui peruwjudkan karakteristik lingkungan yang menumbuhkembangkan kepemimpinan murid berdasarkan
7 aset/modal yang dimiliki sekolah. Prakarsa perubahan diperlukan melalui paradigma inkuiri apresiatif BAGJA sehingga
dapat memberikan ruang murid pada suara,
pilihan dan kepemilikan.
Pelaksanaan
program yang memberdayakan potensi murid sebagai pemimpin dapat
diimplementasikan dalam proses
belajarnya sendiri. Murid mampu mempromosikan suara, pilihan, kepemilikan
sendiri melalui proses yang memerdekakan sehingga para murid mampu menjadi
seorang agen perubahan dan guru menjadi
mitra belajar yang baik bagi para murid melalui proses menuntun dan memberikan
umpan balik atas capaian perkembangan belajar murid.
Evaluasi program dapat dilakukan atas kesepakatan dan
kolaborasi antara guru dan murid yang dilakukan mulai dari tahapan penilaian
yang sistematis, berkala dan berkelanjutan dengan menghasilkan sebuah refleksi
dan tindak lanjut yang jelas mengenai seberapa efektif dampak positif yang
diharapkan dapat tercapai.


.jpeg)





