Senin, 09 September 2024

KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 3.3. PENGELOLAAN PROGRAM YANG BERDAMPAK PADA MURID

Pengelolaan program yang berdampak pada murid sebagai upaya dalam mengoptimalkan kemampuan murid. Melalui filosofi pendidikan Ki Hadjar Dewantara dan metafora "menumbuhkan padi" mengingakan kita mengenai proses pembelajaran yang seharusnya berpihak kepada murid melalui kegiatan secara sadar dan terencana untuk membangun ekosistem welbeing sehingga mampu mengembangkan potensi mereka sesuai dengan kodratnya.

A. Pemikiran reflektif terkait pengalaman belajar

Pengalaman/materi pembelajaran yang baru saja diterima berkenaan dengan pengelolaan program yang berdampak pada murid semakin menguatkan peran guru dalam mewujudkan kepemimpinan murid serta pembelajaran yang berpihak kepada murid dengan segala potensi yang dimiliki oleh para murid serta melalui proses pembelajaran yang menumbuhkembangkan Kompetensi Sosial Emosional pada siswa meliputi 1)kesadaran diri, 2) manajemen diri, 3) kesadaran sosial, 4) keterampilan berelasi, dan 5) pembuat keputusan yang bertanggungjawab secara bertahap menjadi sandaran bagi kita sebagai guru dalam proses Tranfer of Value.

Pemahaman tersebut membangun emosi-emosi yang dirasakan selama proses pembelajaran diantaranya kebahagiaan dalam mencoba membangun kepercayaan kepada para murid dalam menentukan keinginan proses belajar yang mereka inginkan serta kebebasan yang diberikan dilakukan sebagai bentuk kominten bagi mereka dalam menjalankan prosesnya dan hal tersebut menjadi sebuah kebanggaan bahwa para murid dapat melakukan seperti yang diharapkan jika mereka melakukan sesuai dengan "hati" sesuai dengan harapan mereka.

Pada proses pembelajaran, para murid dapat mempertahankan apa yang sudah baik menurut mereka dan menjadi sebuah komitmen bagi diri mereka sendiri sehingga tidak ada merasa "terpaksakan" saat belajar kendati tentunya hal ini memerlukan proses yang bertahap dengan segala karakter unik yang dimiliki oleh para murid sehingga sebagai guru memerlukan sebuah pemikiran yang matang dalam memberikan waktu bagi para murid untuk berproses terhadap diri mereka sendiri.

Beberapa hal yang perlu diperbaiki terkait keterlibatan para murid dalam proses belajarnya adalah kemampuan dalam memahami potensi baik minat maupun bakatnya juga termasuk memahami dirinya dalam kemampuan bidang akademiknya, sehingga para murid dapat fokus terhadap prioritas apa yang diharapkan oleh diri mereka sendiri sebagai bentuk "keyakinan diri" terhadap nilai positif yang dimiliki dan perlu untuk dikembangkan.

Implikasi dari apa yang sudah diyakini dan dilaksanakan oleh para murid tentunya berimbas terhadap kompetensi dan kematangan diri pribadi sebagai individu yang sudah mampu mengambil keputusan yang bertanggungjawab melalui proses negosiasi terhadap dirinya sendiri melalui kesadaran yang dimiliki serta negosiasi terhadap lingkungan sekitarnya yang mengasah kemampuan dan keterampilan sosialnya.

B. Analisis untuk Implementasi dalam konteks CGP

Sebenarnya apa yang dimaksud dengan Pengelolaan Program yang berdampak pada murid?

Pertanyaan ini muncul sebagai bentuk untuk mencari jawaban mengenai pentingnya pengembangan kompetensi para murid dalam keterlibatannya terhadap program-program baik intra kurikuler, ko kurikuler dan ekstrakurikuler yang dapat mendukung potensi kepemipinan bagi murid. Program yang mampu memberikan kesempatan kepada para murid dalam mengembangkan kapasitasnya dalam mengelola pembelajaran mereka sendiri. Mendorong kepemimpinan murid dapat membentuk karakter individu murid yang lebih bertanggung jawab, kontributif tetapi juiga mengasah kemampuan kolaboratif yang dapat dijadikan sebagai pengalaman bermakna yang mungkin dapat dirasakan kebermanfataannya secara luas.

Pemahaman materi terhadap apa yang sudah dipelajari oleh para murid seyogyanya dapat memiliki wawasan yang lebih luas ataupun "insight" baru dalam bidang keilmuan tertentu sehingga membantu para murid terhadap kondisi kontekstual yang ada di lingkungan sekolah.

Tantangan yang dihadapi dalam menumbuhkembangkan kepemimpinan murid di sekolah adalah keberagaman siswa yang banyak dengan berbagai karakter yang dimiliki termasuk latarbelakang para murid baik lingkungan keluarga maupun sosial masyarakat di sekitar tempat tinggalnya. Sehingga tentunya asesmen pra pembelajaran diperlukan bagi guru yang dapat dijadikan sebagai dasar bagi guru dalam membuat stratetegi pembelajaran melalui pendekatan atau model dan metode pembelajaran yang sesuai. Pengelolaan melalui pembelajaran terdiferensiasi diharapkan dapat menjembatani kebutuhan para murid dalam mengembangkan potensi belajarnya serta mampu memberikan kontribusi dirinya terhadap lingkungan belajarnya. Kolaborasi rekan sejawat diperlukan dalam menyamakan visi terhadap proses pembelajaran yang diharapkan bersama.

Dalam mewujudkan jawaban terhadap tantangan yang dimiliki tentunya kolaborasi internal sekolah melalui rekan sejawat yaitu MGMP ataupun di lingkungan yang lebih luas yaitu MGMP Kota maupun Provinsi dalam bentuk sharing praktik baik terhadap praktik-praktik kepemimpinan para murid.

3. Intisari materi

Kepemimpinan murid (student agency)  merupakan salah satu Upaya dalam mewujudkan Profil Pelajar Pancasila, yaitu beriman dan bertakwa serta berakhlak mulia, berkebinekaan global, mandiri, bergotong royong, bernalar kritis, dan kreatif. Para murid dapat diwujudkan melalui kepemimpinan dalam proses pembelajaran yang sebenarnya memiliki suara (voice), pilihan (choice), dan kepemilikan (ownership). Melalui suara, pilihan, dan kepemilikan para murid dapat mengembangkan kapasitas dirinya sebagai pemilik dalam proses belajarnya.

Tugas guru adalah menyediakan lingkungan yangdapat  menumbuhkan budaya agar para murid memiliki keleluasaan dalam menyampaikan suara, pilihan, dan kepemilikannya terhadap apa yang mereka pikirkan dan inginkan dengan direfleksikan melalui tindakan mereka. Karakteristik lingkungan yang dimaksudkan dalam menumbuhkembangkan kepemimpinan murid adalah 1) Menyediakan kesempatan untuk murid menggunakan pola pikir positif dan merasakan emosi yang positif, 2) Keterampilan berinteraksi sosial secara positif, 3) Keterampilan dalam proses pencapaian tujuan akademik maupun non-akademik, 4) Menerima dan memahami kekuatan diri, sesama, serta masyarakat dan lingkungan di sekitarnya, 5) Membuka wawasan menentukan dan menindaklanjuti tujuan, harapan atau mimpi yang manfaat dan kebaikannya melampaui pemenuhan kepentingan individu, kelompok, maupun golongan, 6) Menempatkan murid sedemikian rupa sehingga terlibat aktif dalam proses belajarnya sendiri, 7) Menumbuhkan daya lenting dan sikap tangguh murid untuk terus bangkit di tengah kesempitan dan kesulitan.

4. Membuat keterhubungan

Pengalaman masa lalu dalam proses pembelajaran memang dirasakan tingkat kepercayaan terhadap para murid memerlukan banyak pertimbangan, kekurang yakinan terhadap potensi para murid sebenarnya membuat kita terkadang kurang fokus dan lebih banyak mengevaluasi atau "trial n eror" terhadap metode pembelajaran yang disajikan dan cenderung para murid menjadi lebih pasif dan tujuan diharapkan sesuai dengan yang kita inginkan.

Setelah mempelajari dan mengimplementasikan materi-materi yang telah dipelajari selama mengikuti program guru penggerak ini lebih membuka mata hati dan mata diri kita terhadap makhluk ciptaan Allaah SWT yang telah diciptakan dengan segala bentuk kesempurnaannya dan saat penerapan dilakukan mulai dari memberikan kepercayaan kepada para murid dapat dijadikan sebagai bentuk rasa syukur atas kekuasaan Allaah SWT bahwasannya potensi para murid luar biasa dan memudahkan kita dalam berkolaborasi dengan para murid selama proses pembelajaran berlangsung, ketika para murid dilibatkan mulai dari perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi dengan memberikan kesempatan seluas-lulasnya kepada murid memiliki dampak yang cukup besar terhadap paradigma yang selama ini ada dalam benak diri. Para murid memiliki kemampuan serta tanggung jawab yang luar biasa terhadap apa yang mereka rancang dan dikerjakan, mereka lebih memahami mengenai arti tanggung jawab dan konsekuensi.

Modul 1.1. Filosofi Ki Hajar Dewantara yaitu Guru melalui peran strategisnya dalam menuntun segala kodrat yang dimiliki oleh anak-anak untuk mencapai kesejahteraan dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusaiaan sebagai individu sosial. Dalam pengelolaan program sekolah yang berdampak pada murid tentunya kita sebagai guru harus dapat melibatkan murid dan memperhatikan pengembangan potensi sesuai dengan kodrat alam dan kodrat zamannya melalui pengelolaan cipta, karsa, rasa, dan karya.

Modul 1.2. Nilai dan peran guru penggerak melalui Nilai-nilai dari seorang guru penggerak yaitu mandiri, reflektif, kolaboratif, inovatif dan berpihak pada murid tidak terlepas dari cita-cita mulia dalam mewujudkan Profil Pelajar Pancasila. Dalam menjalankan perannya, seorang guru tidak hanya cukup sebagai pemimpin pembelajaran di kelas, namun juga memiliki tanggung jawab sebagai pemimpin dalam pengelolaan program sekolah yang berpihak pada murid dalam mewujudkan kepemimpinan murid.

Modul 1.3.  Visi guru penggerak  dimana Guru tentunya memiliki visi yang mengarah kepada perubahan, baik perubahan di kelas atau perubahan di sekolah. Subjek perubahan visi yang dimaksudkan adalah para murid dengan menggunakan  pendekatan manajemen perubahan. Manajemen pendekatan perubahan disebut Inkuiri Apresiatif (IA). Dalam merencanakan dan mengelola program yang berdampak pada murid dilakukan dengan menggunakan pendekatan inkuiri apresiatif model BAGJA dengan memetakan aset atau sumber daya sekolah, dan mengembangkan aset atau potensi yang bisa dikembangkan untuk merencanakan program sekolah yang berdampak pada murid.

Modul 1.4.  Budaya Positif  berupa lingkungan yang dapat menumbuhkembangkan perkembangan potensi, minat dan profil belajar murid terutama kekuatan kodrat yang dimilikinya. Pemahaman mengenai hukuman, konsekuensi dan restitusi mampu menguatkan para guru dalam memahami terhadap pengembangan nilai-nilai budaya positif kepada para murid.

Modul 2.1. Pembelajaran untuk memenuhi kebutuhan belajar murid dimana para guru memaksimalkan potensi dalam pengelolaan kelas dengan keberpihakan kepada murid dengan menggunakan pembelajaran berdiferensiasi sebagai bentuk layanan “service excellent” dalam hal proses pembelajaran. Pembelajaran berdiferensiasi dapat menjadi salah satu solusi terhadap keberagaman karakteristik dan kecerdasan murid. Fokus pembelajaran tentunya pemenuhan terhadap kebutuhan belajar, minat dan profil belajar murid. Hal ini dilakukan untuk mengetahui aset atau kekuatan yang dimiliki oleh murid dalam mewujudkan pengembangan kompetensi yang diharapkan khususnya penguatan Profil Pelajar Pancasila.

Modul 2.2 Pembelajaran emosional dan sosial melalui paradigma pembelajaran bukan hanya terbatas pada transfer of knowledge tetapi juga tranfer of value Guru diharapkan mampu mengembangkan kompetensi sosial pada diri murid. Teknik kesadaran diri (mindfulness) menjadi strategi pengembangan lima kompetensi sosial emosional yang didasarkan pada program yang berpihak pada murid dan mewujudkan merdeka belajar dan budaya positif di sekolah.

Modul 2.3. Coaching untuk supervisi akademik  sebagai salah satu teknik atau strategi seorang pemimpin pembelajaran dalam  menuntun anak dan menggali potensi yang dimiliki oleh para murid.  Coaching juga memberikan keleluasaan bagi perkembangan para murid dalam menggali proses berpikir positif mengenai potensi yang dimiliki. Coaching memiliki tujuan utama dalam memberdayakan potensi yang dimiliki melalui diskusi rekan sejawat agar memperoleh pemahaman yang sama dalam menumbuhkan strategi dalam mengembangkan kepemimpinan murid untuk mencapai tujuan pendidikan yaitu keselamatan dan kebahagiaan anak setinggi-tingginya.

Modul 3.1. Pengambilan keputusan berdasarkan nilai-nilai kebajikan seorang pemimpin tentunya Guru sebagai seorang pemimpin pembelajaran diperlukan kemampuan dalam pengambilan Keputusan secara bijak yang berpihak pada murid. Dasar, prinsip, paradigma atau nilai dalam pengambilan keputusan harus konsisten, terutama berkaitan dengan dilema etika atau bujukan moral sehingga menghasilkan Keputusan yang  bertanggungjawab.

Modul 3.2. Pemimpin dalam pengelolaan sumber daya bahwa Guru sebagai pemimpin pembelajaran tentunya harus memiliki kemampuan dalam mengidentifikasi asset/modal  yang ada di sekolah, baik aset fisik maupun non fisik untuk keberlangsungan proses pembelajaran yang berpihak kepada murid. Dengan menggunakan pendekatan berbasis aset/kekuatan (asset based thinking) mampu mengoptimalkan potensi yang dimiliki oleh sekolah sebagai komunitas belajar, melalui paradigma berpikir positif yang dimiliki oleh sekolah terhadap aset yang dimiliki, maka pengelolaan program yang berdampak pada murid dapat terencana, terlaksana dan terevaluasi dengan benar melalui kolaborasi bersama.

Modul 3.3. Pengelolaan program yang berdampak positif pada murid sebagai modul terakhir yang menuntun para guru untuk memiliki pola pikir positif dalam mewujudkan kepemimpinan murid melalui pertimbangan-pertimbangan serta  kebijakan yang mendukung terhadap visi perubahan melalui dukungan 7 (tujuh) karakter lingkungan yang dimiliki.

 Informasi yang diperoleh mengenai program yang berdampak pada murid di luar bahan ajar CGP adalah melalui kegiatan sharing praktik baik yang dilaksanakan pada saat kunjungan studi banding antar sekolah, informasi kegiatan dari MGMP mata pelajaran lainnya, informasi yang diperoleh saat melakukan kolaborasi dan kerjasama kemitraan dengan lembaga atau instansi lain termasuk kemitraan industri bahwasannya potensi para murid yang merupakan Gen-Z cenderung memiliki update wawasan yang lebih cepat serta pola adaptasi terhadap teknologi yang lebih mudah mengadaptasi sehingga perlu kiranya hal tersebut dapat dioptimalkan dalam proses pembelajaran dengan segala kelebihan yang dimiliki oleh para murid sebagai bentuk pembelajaran sesuai dengan zamannya.

5. Presfektif terhadap Program yang berdampak kepada kepemimpinan murid

Program yang berdampak positif pada murid tentunya adalah program-program yang mampu melibatkan kepemimpinan murid (student agency) melalui kesempatan dengan mempromosikan suara, pilihan dan kepemilikan yang dimiliki oleh para murid sehingga dapat mewujudkan ekosistem sekolah yang wellbeing. Para murid dengan berbagai keragaman potensi dan bakat yang dimiliki tentunya dapat  tergali dan dituntun untuk mewujudkan kebahagian yang setinggi-tingginya.

Mengenalkan program atau kegiatan sekolah mulai dari perencanaan, pelaksanaan dan refleksi evaluasi dilakukan secara kolaboratif melalui pemberdayaan aset/kekuatan sumber daya yang dimiliki sekolah sehingga dapat memberikan dampak yang holistik bagi pengembangan potensi para murid.

Perencanaan program dapat dilaksanakan berlandaskan prinsip kolaboratif baik dengan para murid ataupun rekan sejawat melalui peruwjudkan karakteristik lingkungan  yang menumbuhkembangkan kepemimpinan murid berdasarkan 7 aset/modal yang dimiliki sekolah. Prakarsa perubahan diperlukan melalui  paradigma inkuiri apresiatif BAGJA sehingga dapat  memberikan ruang murid pada suara, pilihan dan kepemilikan.

Pelaksanaan program yang memberdayakan potensi murid sebagai pemimpin dapat diimplementasikan  dalam proses belajarnya sendiri. Murid mampu mempromosikan suara, pilihan, kepemilikan sendiri melalui proses yang memerdekakan sehingga para murid mampu menjadi seorang  agen perubahan dan guru menjadi mitra belajar yang baik bagi para murid melalui proses menuntun dan memberikan umpan balik atas capaian perkembangan belajar murid.

Evaluasi  program dapat dilakukan atas kesepakatan dan kolaborasi antara guru dan murid yang dilakukan mulai dari tahapan penilaian yang sistematis, berkala dan berkelanjutan dengan menghasilkan sebuah refleksi dan tindak lanjut yang jelas mengenai seberapa efektif dampak positif yang diharapkan dapat tercapai.



Rabu, 21 Agustus 2024

KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 3.2. PEMPIMPIN SEBAGAI PENGELOLA SUMBER DAYA

A. Implementasi Pengelolaan Sumber Daya oleh Pemimpin Pembelajar

Pemimpin Pembelajaran dalam Pengelolaan Sumber Daya merupakan seseorang yang bertanggung jawab terhadap pengelolaan sumber daya yang ada di lingkungan pembelajaran baik kelas, sekolah ataupun lingkungan masyarakat sekitar yang menunjang terhadap proses pembelajaran para murid meliputi sumber daya berupa aset-aset diantaranya manusia, fisik, lingkungan alam, finansial, sosial, agama dan budaya serta politik. Implementasi Pengelolaan Sumber bagi pemimpin pembelajar terdesripsikan melalui uraian di bawah ini :

1. Implementasi di Kelas

Sumber Daya di kelas meliputi komponen biotik sebagai aset manusia yaitu Guru dan siswa serta abiotik meliputi lingkungan kelas penataan ruangan kelas meliputi layout whiteboard, lemari, meja literasi, meja dan kursi Guru, meja dan kursi siswa, media peraga, pencahayaan, ruang gerak siswa. Keberagaman siswa menjadi aset bagi pengembangan pembelajaran di kelas dengan segala potensi berupa kodrat alam dan kodrat zaman yang dimiliki menentukan Guru dalam memberikan lingkungan alam yang ada sebagai aset penunjang dalam proses pembelajaran. Aset sosial dapat muncul dengan adanya keberagaman siswa berdasarkan latar belakang dapat sosial keluarga yang dapat membentuk sebuah iklim kelas yang baru dan menunjang terhadap kesepakatan kelas yang terjadi sehingga memunculkan  norma dan budaya yang beragam yang menjadi aset agama dan budaya yang dapat tercermin dari hasil cipta dan karya para siswa dalam menghadirkan sebuah unjuk karya pada mata pelajaran tertentu atau kolaborasi hasil mata pelajaran melalui project penguatan P5.

Aset finansial yang dapat diberdayakan di lingkungan kelas berupa kas kelas siswa yang diperuntukan untuk menunjang lingkungan belajar yang nyaman dan aman misalnya untuk kebersihan kelas, penataan ruangan kelas agar lebih indah.

Aset politik yang ada di kelas lebih kepada kebijakan dari sekolah mengenai ketertiban dan keamanan di kelas serta kesepakatan kelas yang dibuat untuk dipatuhi dan pemenuhan terhadap konsekuensi yang terjadi.

2. Implementasi di Sekolah

Aset sumber daya di sekolah memiliki cakupan yang luas daripada lingkungan kelas. Aset tersebut diantaranya 

  1. Aset Manusia meliputi Guru, Tenaga Kependidikan, Murid serta para Orangtua/Wali Murid yang dapat berperan dalam upaya pencapaian visi sekolah melalui keterlibatan secara langsung maupun tidak langsung dalam proses pembelajaran diantaranya Guru dapat berkolaborasi dengan tenaga kependidikan baik sebagai narasumber misalnya tukang kebun sebagai narasumber dalam pertumbuhan dan perkembangan makhluk hidup pada tumbuhan sekitar sekolah, murid sebagai subjek pembelajar yang memiliki peran paling penting dalam mewujudkan visi sekolah, bukan hanya itu orangtua sebagai aset kolaborasi dalam pertumbuhan dan perkembangan karakter para murid.
  2. Aset Sosial meliputi organisasi siswa baik OSIS, MPK, maupun ekstrakurikuler yang dapat mengembangkan kompetensi sosial dan emosional siswa, selain itu organisasi sosial kemasyarakatan di lingkungan sekolah misalnya karang taruna setempat dapat berkolaborasi dengan organisasi sekolah dalam kontrol sosial di lingkugan sekolah. Hal tersebut dapat menjadi sumber belajar pada mata pelajaran tertentu khususnya pada kegiatan project event kolaborasi antar mata  pelajaran.
  3. Aset Lingkungan alam sekolah dapat dijadikan sebagai diferensiasi lingkungan belajar ataupun sumber belajar bagi para murid selama proses pembelajaran berlangsung.
  4. Aset Finansial berupa bantuan operasional sekolah dari pemerintah pusat maupun daerah (BOS maupun BOPD) ataupun dana partisipasi masyarakat sebagai sumber pendanaan strategis dalam pengembangan kompetesi siswa baik dalam program reguler ataupun program terintegrasi antar mata pelajaran dalam sebuah project pembelajaran. Aset finansial lainnya yang dapat diberdayakan tentu saja Corporate Social Responsilbility (CSR) yang diperuntukan oleh perusahaan bagi pengembangan mutu pendidikan di sekolah. Sponsorship dapat menjadi salah satu pendanaan yang diperhitungkan dalam kolaborasi project antar mapel yang dapat membangun potensi sekolah secara luas.
  5. Aset Fisik berupa ruang pembelajaran teori, ruang praktik, laboratorium, toilet, masjid, lapangan, aksesibility, area parkir, taman, rooftop dan lainnya dapat dijadikan sebagai sarana penunjang utama dalam proses pembelajaran agar lebih efektif, nyaman serta aman bagi para murid.
  6. Aset Agama dan Budaya berupa keberagaman budaya yang mewujudkan toleransi antar umat beragama dapat memwujudkan nuansa pembelajaran yang agamis dan selaras dengan kebutuhan sekolah dengan menjunjung nilai-nilai kemanusiaan dan kesejahteraan. Budaya yang terbentuk di lingkungan sekolah baik berupa budaya 5S ataupun pembiasaan postif budaya kerja dapat mewujudkan karakter para murid sesuai dengan profil pelajar Pancasila. 
  7. Aset politik berupa kebijakan pemerintah pusat dan daerah ataupun organisasi lainnya yang memerhatikan perkembangan sekolah tentunya dapat dijadikan sebagai sebuah pertimbangan dalam pengambilan keputusan secara nyata untuk melihat dampak yang terjadi terhadap pembelajaran yang berpihak kepada murid. 

3. Implementasi di Masyarakat sekitar sekolah.

Pengelolaan sumber daya masyarakat sekitar sekolah sebagai aset lainnya yang menguatkan 7 aset sekolah dalam pengembangan proses pendidikan khususnya pembelajaran bagi murid diantaranya para stakeholder sebagai lembaga pemerintahan, komite sekolah, lembaga swadaya masyarakat, khususnya kemitraan industri yang dapat mendukung terhadap proses pembelajaran berbasis peningkatan kompetensi di jenjang sekolah menengah kejuruan atau SMK. 

Ketiga implementasi di atas sebagai bentuk perwujudan terhadap identifikasi potensi aset-aset di sekitar kita yang dapat diberdayakan secara optimal melalui kolaborasi sesuai dengan tingkat kepentingan dan prioritas yang diperluan dalam pengembangan visi yang akan dicapai.

B. Hubungan Pengelolaan Sumber Daya terhadap Proses Pembelajaran

Sekolah sebagai institusi moral tentunya dalam implementasinya guru bukan hanya melaksanakan transfer of knowledge tetapi juga harus difokuskan kepada transfer of value sehingga dalam perencanaan program pembelajaran perlu adanya interaksi serta kolaborasi dari beberapa unsur aset di sekolah yang perlu diidentifikasi sesuai dengan fungsi dan perannya, sehingga dapat dihasilkan tujuan yang selaras dengan visi sekolah melalui optimalisasi aset yang ada dan diharapkan proses pembelajaran para murid menjadi lebih berkualitas sehingga terbentuk para murid yang memiliki insan sesuai dengan karakter Profil Pelajar Pancasila.

Pengelolaan sumber daya yang tepat dan dapat mendorong pada proses pembelajaran di kelas menjadi lebih berkualitas diantaranya dengan Aset Manusia diantaranya  guru dan tenaga kependidikan yang memiliki memilihi hubungan secara langsung dalam peningkatan pembelajaran  tentunya sekolah dapat memfasilitasi guru untuk  kegiatan pengembangan diri melalui bimtek, diklat, workshop dan kegiatan lain yang mendukung kompetensi diri baik secara daring maupun luring.

Pengelolaan Aset Lingkungan Alam dengan dengan Aset Fisik akan saling berkorelasi terhadap peningkatan pembelajaran murid. Lingkungan sekolah yang kondusif dari segi sosial maupun politik akan menciptakan pembelajaran yang nyaman, menyenangkan dan berpihak pada murid yang tentunya berperan dalam peningkatan kualitas pembelajaran.

MGMP sekolah maupun MGMP antar sekolah sebagai salah satu Aset Sosial dalam upaya peningkatan kompetensi guru selain itu pula kolaborasi dengan Puskesmas untuk meningkatkan mutu kesehatan di sekolah.  Aset finansial dengan membuat rencana kerja anggaran sekolah (RKAS) sesuai prioritas dan kebutuhan sekolah sehingga mendukung untuk keberlangsungan proses pembelajaran manjadi lebih berkulitas. Aset politik berupa kerjasama atau kemitraan dengan instansi/dinas terkait yang di pemerintah daerah untuk mendukung program-program sekolah dan selanjutnya adalah Aset agama dan budaya melalui optimalisasi dalam melestarikan budaya kearifan lokal misal belajar tari tradisional dan kegiatan religi berupa pondok ramadhan, memperingati hari besar nasional keagamaan melibatkan tokoh agama disekitarnya.

Gambar. Dokumentasi Pribadi Kegiatan KKG

C. Keterkaitan materi Prasyarat dari Modul Sebelumnya

Pembelajaran pada modul ini tidak terlepas dari Modul-modul sebelumnya yang dapat menjadi identifikasi pengembangan sekolah melalui pendekatan berbasis Aset yang diadopsi dari Pendekatan Inkuiry Apresiatif. Hubungan antar modul dapat terdeskripsikan di bawah ini :

  1. Modul 1.1 tentang adanya refleksi filosofi Ki Hadjar Dewantara menjadi dasar mengenai arti pendidikan yang berpihak kepada murid dengan kodrat alam yang dimiliki sebagai keberagaman karakter serta potensi disesuaikan dengan kodrat zamannya dalam pengembangan kompetensi para murid baik secara hardskill maupun softskill sehingga para murid dipandang sebagai potensi sumber daya atau aset yang perlu bertumbuh dan berkembang secara optimal dalam mewujudkan tujuan pendidikan yang menjunjung nilai nilai kemanusiaan.
  2. Modul 1.2 tentang nilai dan peran Guru Penggerak dalam hal ini Guru secara umum sebagai aset manusia yang memiliki kompetensi dalam mengelola sebuah proses pembelajaran, merefleksikan, membuat inovasi, dan kreatifitas serta berkolaborasi dalam mendukung perannya sebagai pemimpin pembelajaran. Kompetensi ini sangat diperlukan dalam mewujudkan pendidikan yang berpihak kepada murid.
  3. Modul 1.3 tentang Visi Guru Penggerak dalam hal ini Guru secara umum dalam memandang para murid sebagai subjek dari Visi yang digagas melalui prakarsa perubahan melalui pendekatan berbasis Inkuiry Apresiatif melalui tahapan  BAGJA yang dapat dilakukan dalam optimalisasi sumber daya atau aset-aset yang diperlukan
  4. Modul 1.4 tentang Budaya Positif sebagai dapat dipandang sebagai aset sosial maupun budaya yang dapat dikembangkan dalam implementasi budaya sekolah yang mewujudkan ekosistem wellbeing.
  5. Modul 2.1 tentang Pembelajaran Berdiferensiasi sebagai salah satu bentuk kompetensi bagi guru sebagai aset yang diperuntukan dalam pengembangan kompetesi siswa melalui proses pembelajaran yang interaktif, inovatif, kolaboratif dengan memanfaatkan berbagai potensi sumber daya atau aset yang dimiliki oleh kelas ataupu sekolah baik karakter potensi murid, lingkungan fisik, lingkungan alam ataupun sosial dan budaya yang ada di lingkungan sekolah.
  6. Modul 2.2 tentang Keterampilan Sosial dan Emosional lebih berkaitan dengan adanya kemampuan dari seorang guru dalam hal terampil menjaga emosi dan sosial kepada murid maupun civitas academika dalam pemberdayaan potensi murid.
  7. Modul 2.3 tentang Coaching untuk Supervisi Akademik tentu juga adanya prinsip, Teknik hingga langkah-langkah coaching untuk dilakukan guru dengan adanya penggalian kemampuan dan kemandirian coachee sebagai aset sekolah dalam menyelesaikan masalahnya. Hal ini sangat berarti dalam pemberdayaan civitas academica untuk bisa berdaya di sekolah
  8. Modul 3.1 tentang Pengambilan Keputusan sebagai Pemimpin Pembelajaran sangat berkaitan dengan penerapan konsep, paradigma, dan nilai kebaikan bersama serta penerapan 9 langkah konsep pengambilan keputusan untuk pengelolaan aset sehingga dapat berjalan dengan lebih optimal.
D. Perubahan Pemikiran dalam Diri

                                        Gambar. Dokumentasi Pribadi Pembelajaran di lingkungan kantin sekolah

Sebelum belajar modul 3.2. mengenai pemimpin pembelajaran dalam pengelolaan sumber daya maka pola pikir kecenderungan berbasis kekurangan sehingga terkadang muncul rasa pesimisme dalam melaksanakan program kendati sebenarnya pada pembelajaran modul 1.3. mengenai visi Guru penggerak terlebih dahulu memahamikan mengenai pendekatan Inkuiri Apresiatif syang sudah mulai memunculkam pola pikir positif terhadap lingkungan sekolah yang ada tetapi dengan sudut pandang masih terbatas kepada salah satu fokus yaitu pengelolaan sumber daya terhadap Aset Manusia, tetapi setelah mempelajari modul 3.2. pola pikir dan sudut pandang lebih luas dan lebih detail terhadap identifikasi setiap potensi yang ada di lingkungan sekolah melalui pendekatan berbasis Aset atau PKBA sehingga dalam memandang sebuah permasalahan di sekolah khususnya di kelas identifikasi penyelesaian lebih mudah dengan melihat aset-aset yang teridentifikasi melalui fungsi, peran dan posisi.

Dari hal tersebut di atas dapat ditarik salah satu point bahwa sebagai pemimpin pembelajaran untuk dapat mengedepankan pola pikir berbasis kekuatan/aset yang dimiliki agar memperoleh semangat serta optimis terhadap visi dan tujuan yang ingin dicapai oleh seorang pemimpin pembelajar.


Minggu, 04 Agustus 2024

KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 3.1. PENGAMBILAN KEPUTUSAN BERDASARKAN NILAI-NILAI KEBAJIKAN UNIVERSAL

Pratap Triloka terdiri dari tiga semboyan yaitu Ing Ngarso Sung Tulodha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani yang memiliki arti bahwa di depan memberi teladan, di tengah memberi motivasi dan di belakang memberikan dukungan. Implementasi dari tiga semboyan tersebut mengakar kepada fungsi seorang pendidik dalam memberikan pengalaman dan pemahaman terhadap nilai-nilai diri dari para murid dengan memberikan bimbingan serta mendorong para murid berkembang sesuai dengan kodrat alam yang dimiliki dan sesuai dengan zamannya. Hal tersebut tertunya berpengaruh terhadap sudut pandang kita sebagai pendidik dalam pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran yang senantiasa berpihak kepada murid.

Nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita sangat berpengaruh terhadap prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan keputusan khususnya keputusan dalam pengembangan peserta didik. Prinsip dalam pendidikan bahwan fungsi guru bukan hanya transfer of knowledge tetapi juga transfer of value, bagaimana nilai-nilai kebajikan yang kita yakini dapat memberikan feedback secara positif terhadap pengembangan nilai dari para murid kita sehingga menjadi pembiasaan nilai-nilai positif bagi para murid yang tertanam dan diyakini sebagai keseharian mereka dalam menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Sebagai pemimpin pembelajaran tentunya kita dapat mengejawantahkan hal tersebut melalui pengambilan keputusan yang kita ambil dalam proses pembelajaran ataupun interaksi kita sebagai guru terhadap seluruh unsur ataupun komponen yang ada di lingkungan sekolah kita secara khusus dan lingkungan masyarakat pada umumnya.

Pengambilan keputusan yang telah kita ambil dapat diuji melalui proses coaching melalui pendamping ataupun fasilitator yang kita miliki karena hal tersebut dapat menjawab bagaiamana pengambilan keputusan yang kita buat apakah sesuai dengan tujuan yang diharapkan ataukan muncul hal positif lain yang masih dapat kita kembangkan untuk melengkapi pengambilan keputusan yang telah kita buat, termasuk "side effect" dari keputusan tersebut. Selain menguji pengambilan keputusan yang kita ambil, kita sebagai guru pun dapat melakukan proses coaching terlebih dahulu untuk mengetahui jenis pengambilan keputusan yang tepat terhadap apa yang kita hadapi dengan segala pertimbangan yang kita miliki sehingga kita dapat mengambil keputusan yang tepat yang dapat meminimalkan resiko yang mungkin terjadi.

Pengambilan keputusan yang kita lakukan sebagai pemimpin pembelajaran tentunya erat kaitannya dengan aspek sosial dan emosional yang dimiliki khususnya jika permasalahan tersebut berhubungan dengan dilema etika yang dihadapi. Pemilihan keputusan yang bersifat prioritas dari pilihan yang benar terhadap yang benar menjadikan kita harus dapat memiliki banyak pengetahuan logis dan rasional serta memainkan kompetensi sosial emosional yang dimiliki agar keputusan yang diambil menjadi memiliki dampak positif terhadap kebaikan yang lebih luas.Sembilan tahapan dalam pengambilan keputusan yang menyangkut permasalahan dilema etika diperlukan untuk menguji apakah pengambilan keputusan tepat dengan tahapan sebagai berikut :

  1. Mengenali nilai-nilai yang saling bertentangan
  2. Menentukan siapa yang terlibat dalam kasus ini
  3. Kumpulkan fakta-fakta yang relevan dalam kasus ini
  4. Pengujian benar atau salah (1) Uji Legal, 2) Uji Regulasi, 3) Uji Intuisi, 4) Uji Publikasi, 5) Uji Panutan)
  5. Pengujian paradigma benar lawan benar
  6. Melakukan prinsip resolusi
  7. Investigasi Opsi Trilema
  8. Buat Keputusan
  9. Lihat lagi keputusan & refleksikan

Studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika kembali kepada nilai-nilai yang dianut oleh seorang pedidik. Nilai-nilai kebagikan universal menjadi standar pengambilan keputusan sehingga permasalahan moral dan etika dapat diselesaikan melalui sudut padang kebaikan yang lebih luas dan kebaikan untuk bersama, walaupun terkadang kondisi tersebut sangat berat untuk diputuskan. Tetapi dengan diawali dengan niat yang baik maka akan diperoleh hasil yang baik pula atau bahkan mungkin menjadi lebih baik.

Pengambilan keputusan yang tepat tentunya berdampak kepada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman dikarenakan keputusan yang diambil merupakan keputusan yang mengedepakan kompetensi sosial emosional yang dimiliki adar lebih mudah beradaptasi antara yang satu dengan yang lainnya, dan disadari bahwa setiap keputusan akan membawa kepada perubahan, dan harapan perubahan tersebut dapat diterima dengan baik oleh lingkungan di sekitar kita dan dapat dijalankan secara bersama-sama.

Gb. Pembelajaran dilakukan di lingkungan belajar yang berbeda

Pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran tentunya memiliki tantangan-tantangan terendiri dan erat kaitannya dengan perubahan paradigma di lingkungan sekitar kita. Tidak mudah untuk mengubah sebuah paradigma terlebih kondisi  permasalaha yang dihadapi merupakan kondisi yang telah terjadi dalam kurun waktu yang lama sehingga proses perubahannya pun tidak memerlukan waktu yang sebentar. Perubahan paradigma dimulai dari diri kita dan melalui penerapan kompetensi sosial dan emosional yang dimiliki diharapkan dapat sedikit demi sedikit merubah paradigma yang sudah ada untuk bisa kembali kepada nilai-nilai kebajikan universal yang kita anut dan diselaraskan dengan visi sekolah kita.

Pengajaran yang memerdekakan sesuai dengan filosofi pendidikan Ki Hadjar Dewantara yang salah satunya adalah tujuan pendidikan yang utama adalah mendorong dan membimbing para murid untuk mengembangkan potensi yang dimiliki sesuai dengan kodrat alam dan kodrat zamannya. Dengan memahami bahwa karakter peserta didik yang unik dengan berbagai potensi yang dimiliki maka kita dapat mengambil keputusan yang bertanggungjawab untuk bisa memfasilitasi setiap kebutuhan para murid dengan mengacu kepada pembelajaran yang berpihak kepada murid.

Pengambilan keputusan yang diambil oleh kita sebagai pemimpin pembelajaran dapat memengaruhi kehidupan atau masa depan murid-muridnya melalui pengembangan kompetensi yang dimiliki oleh para murid khususnya pada kompetensi sosial dan emosionalnya akan berimbas kepada pengambilan keputusan para murid yang bertanggungjawab bukan hanya untuk dirinya sendiri melainkan juga untuk lingkungan di sekitarnya Dengan demikian para murid dapat mendedikasikan dirinya untuk kehidupan bermasyarakat yang lebih baik ataupun terhadap masa depan profesionalisme yang akan dihadapinya kelak.

Kesimpulan akhir yang dapat ditarik adari pembelajaran modul ini hubungannya dengan keterkaitannya pada modul-modul sebelumnya adalah pengambilan keputusan yang kita ambil merupakan bentuk dari kesadaran kita tentang arti sebuah pendidikan untuk bisa senantiasa berpihak kepada murid sehingga kita sebagai guru harus bisa mengoptimalkan fungsi dan peran kita sebagai guru dengan memiliki visi perubahan yang jelas serta mewujudkannya melalui prakarsa perubahan yang dibuat melalui proses kolaboratif dari berbagai unsur yang ada khususnya dilingkungan sekolah ataupun para stakeholder. Pada proses pembelajaran dengan memahami karakter para murid melalui pengenalan kesiapan belajar murid dilihat dari minat dan bakat, gaya belajar serta profil belajar siswa dapat didukung dengan melakukan proses pembelajaran yang berdiferensiasi baik secara konten, proses maupun produk yang ditunjang dengan upaya pengembangan kompetensi sosial dan emosional baik kita sebagai guru serta tentunya para murid sebagai subjek pembelajar. Beberapa proses pendampingan baik coaching, mentoring, konseling, ataupun training dapat menunjang kompetensi kita secara menyeluruh dan berpengaruh terhadap pemilihan pengambilan keputusan yang tepat sebagai pemimpin pembelajaran.

Refleksi dari konsep dilema etika dan bujukan moral yang telah dipelajari memberikan pemahaman yang lebih holistik terhadap proses penyelesaian masalah yang berkaitan dengan dilema etika untuk memiliki benar dari yang benar atau bujukan moral yang tentunya memilih benar dari benar atau salahnya sebuah keputusan dari kebiasaan masa lalu yang menjadi budaya bagi lingkungan sekitar kita dan tentunya hal tersebut berperngaruh terhadap cara kita dalam menentukan pengambilan keputusan  melalui 4 (empat) paradigma yaitu 1) paradigma indivdu lawan masyarakat, 2) rasa keadilan lawan belas kasiha , 3) kebenaran lawan kesetiaan , 4) jangka panjang lawan jangka pendek yang dapat menentukan prinsip yang digunakan dalam pengambilan keputusan diantaranya 1) Care Based Thingking, 2) Rule Based Thingking, 3) End Based Thingking yang diuji melalkui proses 9 langkah pengambilan keputusan. Dan dari hal-hal tersebut diatas akan muncul hal-hal yang diluar dugaan berdasarkan fakta-fakta yang ada dan akan muncul pada prinsip resolusi serta opsi trilema yang dimunculkan sebagai standar-standar yang mengacu kepada nilai-nilai kebajikan untuk bisa diselesaikan sesuai dengan norma-norma yang ada.

Sebelum mempelajarai modul ini tentunya pernah ada penerapan pengambilan keputusan yang diambil sebagai pemimpin pembelajaran dalam situasi moral dilema ataupun dilema etika yang proses penyelesaiinya lebih banyak meminta pertimbangan dari orang lain yang berpengalaman atau melakukan negosiasi solusi masalah yang dihadapi bersama, namu setelah mempelajari modul ini banyak hal yang diperoleh khususnya dalam pengambilan keputusan untuk dapat diperhatikan hal-hal yang bersifat melestarikan nilai-nilai kebajikan universal yang dimiliki dalam diri sebagai sebuah komitmen untuk berproses menjadi lebih baik pada setiap hari dan hari berikutnya.

Dampak setelah mempelajari konsep ini lebih memudahkan saya sebagai pendidik untuk dapat mengambil keputusan secara bijak dengan memunculkan kompetensi sosial & emosional dalam diri serta memandang para murid sebagai makhluk hidup yang luar biasa dengan segala keberagaman hal positif yang dimiliki serta memperluas pemahaman agar kita sebagai guru senantiasa menjadi pembelajar sepanjang hayat dan mampu berkonstribusi positif terhadap pembentuan karakter para murid dengan pengambilan keputusan yang tepat yaitu berpihak kepada murid.

Topik ini menjadi penting bagi kita sebagai individu yang seyogyanya bahwa setiap manusia adalah pemimpin dan keputusan yang dibuat, diambil, dilaksanakan, dan dievaluasi merupakan perwujudan nilai-nilai kebajikan universal yang ada dalam diri sebagai bentuk keyakinan diri terhadap proses yang dijalani. Sebagai pendidik sekaligus pembelajar sepanjang hayat tentunya harus bisa mampu mensejajarkan diri dan melalampaui kemampuan kompetensi sosial dan emosional agar dapat menjadi pemimpin pembelajar yang senantiasa berpihak kepada murid dan menjadi teladan bersama bagi rekan sejawatnya.

Selasa, 23 Juli 2024

KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 2.3. COACHING DALAM SUPERVISI AKADEMIK

A. Pengertian Supervisi Akademik

Supervisi akademik sebagai salah satu tugas dari Kepala Sekolah untuk memastikan bahwa pembelajaran berpihak kepada murid sebagaimana tertuang dalam standar proses pada Standar Nasional Pendidikan. Selain itu, Supervisi Akademik juga bertujuan untuk pengembangan kompetensi diri dalam setiap pendidik di sekolah sebagaimana tertuang dalam Standar Tenaga Pendidk pada Standar Nasional Pendidikan dengan Kriteria minimal kompetensi pendidikan meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, dan kompetensi profesional. 

Supervisi berasal dari kata "super dan vision", dalam KBBI super berarti tinggi, atas, sedangkan vision memiliki arti melihat, sehingga supervisi dapat diartikan melihat dari atas orang yang melihat itu mempunyai kemampuan yang lebih (tinggi) dari yang dilihat. Dari pengertian terebut maka Supervisi menurut Glickman merupakan serangkaian kegiatan membantu uru mengembangakn kememapuan mengelola proses pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran. Demikian pula menurut Sujana (2008), yang menyatakan bahwa supervisi akademik adalah menilai dan membina guru dalam rangka meningkatkan kualitas proses pembelajaran agar kompetensi peserta didik mencapai hasil yang optimal.

B. Paradigma Pendekatan Coaching

Supervisi Akademik menggunakan pendekatan Coaching sebagai salah satu langkah bagi guru dalam upaya peningkatan atau pemberdayaan kompetensi yang dimiliki khususnya dalam proses pembelajaran. International Coaching Federation (ICF) mendefinisikan bahwa coaching sebagai kemitraan antara coach dengan klien dalam suatu proses kreatif dan menggugah pikiran untuk menginspirasi klien untuk dapat memaksimalkan potensi pribadi dan profesional coachee.

Prinsip Coaching yang dikembangkan adalah 1) Kemitraan, 2) Proses Kreatif 3) Memaksimalkan Potensi. Coaching memiliki maksud untuk mengubah efektivitas pengambilan keputusan, paradigma berfikir, dan persepsi serta membiasakan refleksi dengan fokus tujuan meningkatkan dan membiasakan belajar mandiri, mengelola diri sendiri, memantau diri sendiri, serta memodifikasi diri sendiri. 

Adapun Kompetensi pengembangan dalam coaching yaitu :

  1. Kehadiran Penuh (Presence)
  2. Mendengarkan aktif
  3.  Mengajukan pertanyaan berbobot menggunakan RASA

  
Sumber :https://.melintas.id/pendidikan

RASA merupakan akronim dari Receive, Apreciate, Summarize, & Ask. Secara umum dapat diartikan
  1. Receive/Terima yaitu mendengarkan dengan seksama informasi yang disampaikan coachee dengan memperhatikan kata kunci yang diucapkan
  2. Apreciate/Apresiasi yaitu memberikan respon dengan bahasa verbal ataupun non verbal
  3. Summarize/Merangkum yaitu memastikan pemahaman coach sama dengan coacgee dengan memerhatikan kata kunci dari coachee
  4. Ask/Tanya yaitu dengan mengajukan pertanyaan berupa a) berdasarkan apa yang didengar dan dirangkum, b) membuat pemahaman coachee tentang situasinya, c) mengkonfirmasi atau menggali kata kunci atau emosi yang dirasakan, d) menggunakan format pertanyaan terbuka apa, bagaimana, seberapa, kapan, siapa atau dimana, e) menghindari penggunaan pertanyaan tertutup yaitu mengapa, apakah, sudahkah
C. Proses Coaching menggunakan prinsip Alur TIRTA

TIRTA merupakan satu model umum yang telah dikenal sangat luas dan banyak diaplikasikan yaitu GROW model yaitu Goal, Reality, Option,  & Will. Dari segi bahasa, TIRTA berarti ari mengalir dari hulu ke hilir sehingga sebagai coach salah satu peran penting adalah membantu coachee menyadari potensi yang dimiliki untuk mengembangkan kompetensi dirinya dan menjadi mandiri melalui pendampingan yang memberdayakan.

Sumber :https://.melintas.id/pendidikan

D. Peran Guru  Coach terkait Pembelajaran Berdiferensiasi dan PSE

Guru di sekolah memiliki peran penting dalam proses pembelajaran yang berpihak kepada murid. Peran guru sebagai menggunakan paradigma coach tentunya diharapkan mampu meningkatkan kemampuan/potensi guru dalam memberdayakan potensi para murid dengan memahami kebutuhan murid. Melalui proses coaching dapat memberikan gambaran mengenai potensi yang dimiliki oleh para murid untuk berkembang sesuai dengan harapannya. Dengan memahami kebutuhan murid melalui proses coaching dapat menumbuhkan rasa tanggung jawab bagi murid dalam menjalankan kesepakatan kelas ataupun sekolah serta guru dapat memberikan nuansa pembelajaran yang disesuaikan dengan kebutuhan belajar siswa mulai dari pemenuhan kesiapan belajar siswa, gaya belajar serta profil para murid. Dengan demikian memudahkan guru dalam membuat fokus pemetaan terhadap diferensiasi konten, proses dan produk. 

Dalam fungsinya guru sebagai coach untuk memberdayakan coachee dalam hal ini para murid juga berpengaruh terhadap pengembangan kompetensi sosial dan emosional para murid mulai dari membangkitkan kesadaran diri, pengelolaan/manajemen dri, kesadaran sosial, keterampilan relasi dan pengambilan keputusan yang bertanggungjawab terlebih proses coaching menggunakan Alur TIRTA yang memudahkan guru dalam membimbing proses coaching melalui pertanyaan yang mengalir sesuai dengan tahapannya. 

Selain bagi murid, proses coaching juga secara disadari mampu meningkatkan kompetensi sosial emosioal dalam mengembangkan pembelajaran sosial emosinal yang sejalan dengan pengembangan kompetensi coaching yaitu kehadiran penuh yang dapat diawali dengan proses mindfulness, mendengarkan aktif yaitu melatih manajemen diri dalam berempati serta kesadaran sosial dan relasi, serta mengajukan pertanyaan berbobot yang merupakan implementasi dari pembuat keputusan yang bertanggung jawab sebagai hasil respon dari mendengarkan dengan RASA.

E. Keterkaitan keterampilan coaching dengan pengembangan kompetensi sebagai pemimpin pembelajaran

Paradigma pendekatan coaching menjadi hal yang perlu dilatih sebagai pemimpin pembelajaran. Filosofi Pendidikan menurut Ki Hadjar Dewantara yaitu Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madya Mangunkarso, Tut Wuri Handayani sebagai landasan awal bagi guru untuk menjalankan fungsinya serta membangun kolaborasi dengan siswa selama pembelajaran berlangsung untuk mengoptimalkan para murid melalui olah rasa, olah karsa, olah raga, serta olah karya sehingga menghasilkan pembelajaran sesuai dengan yang diharapkan.

Melalui Coaching maka para guru dapat membentuk kedekatan emosional yang lebih responsif dengan pola pikir Growth Mindset untuk memunculkan potensi bagi para muridnya sehingga tercipta suasana pembelajaran yang aktif dan kondusif. Fokus terhadap siswa serta permasalahannya dapat membantu guru dalam menemukan iklim kelas yang aman,  nyaman serta meningkatnya kondisi wellbeing di kelas maupun di sekolah. 

Guru memiliki pengetahuan yang lebih luas mengenai profil murid serta kesiapan belajar murid sehingga guru mampu mengoptimalkan dirinya dalam mengelola kelas dengan baik menggunakan strategi pembelajaran serta metode pembelajaran yang tepat bagi kelasnya.

Dalam implementasinya proses coaching dalam supervisi akademik diharapkan mampu menjembatani proses pembelajaran yang berpihak kepada murid untuk mencapai visi sekolah secara umum dan menyeluruh.

Selasa, 02 Juli 2024

AKSI NYATA MODUL 2.2. IMPELEMENTASI PEMBELAJARAN SOSIAL & EMOSIONAL

 

A. Pembelajaran Sosial & Emosional (PSE)

Pembelajaran Sosial & Emosional (PSE) adalah pembelajaran yang dilakukan secara kolaboratif oleh seluruh komunitas sekolah dan memungkinkan anak-anak serta orang dewasa di sekolah memperoleh dan menerapkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap positif mengenai aspek sosial dan emosional sehingga mampu untuk :

  1. Memahami, menghayati, dan mengelola emosi (kesadaran diri)
  2. Menetapkan dan mencapat tujuan positif (Manajemen Diri)
  3. Merasakan dan menunjukan empati kepada orang lain (Kesadaran Sosial)
  4. Membangun dan mempertahankan hubungan yang positif (Kesadaran Sosial)
  5. Membuat Keputusan yang bertanggungjawab (pengambilan keputusan yang bertanggungjawab)

Kelima komponen tersebut di atas merupakan dikenal sebagai Kompetensi Sosial dan Emosional (KSE).

Menurut Collaborative for Academic, Sosial, & Emotional Learning (CASEL) yang merupakan sebuah organisasi nirlaba yang ditujukan bagi siswa dan pendidik untuk mencapai hasil positif bagi siswa sekoalh dasar dan menengah, KSE melibatkan 5 kompensi yang dapat diterapkan di ruang kelas, di rumah dan dikomunitas siswa. 

Gambar : Diagram Casel mengenai pengembangan Social-Emotional Learning

B. MINDFULLNESS

Kesadaran penuh (Mindfullness) sebagai penguatan dasar dalam penerapan lima (5)  Kompetensi Sosial & Emosional. Kesadaran penuh itu sendiri dapat diartikan sebagai kesadaran yang muncul ketika seseorang memberikan perhatian secara sengaja/sadar pada kondisi saat sekarang, dilandasi rasa ingin tahu (tanpa menghakimi) dan kebaikan (dalam Hawkins, 2017. hal.15) yang sebenarnya ada pada diri manusia secara alami tanpa dipelajari akan tetapi terkadang pikiran kita yang sulit dikendalikan sehingga kesadaran penuh dapat meminimalkan hambatan-hambatan yang dialami.

Teknik kesadaran penuh dapat menggunakan teknik STOP yang dapat dilakukan kapan saja, dimana saja tanpa peralatan apapun. 

S - STOP (berhenti sejenak dari aktivitas yang dilakukan)

T - Take a deep breath (Ambil Nafas dalam-dalam)

O - Observe (Amati dan rasakan sensasi tubuh perasaan, pikiran, lingkungan sekitar)

P - Procced (Melanjutkan aktivitas)

Gambar Ilustrasi Penerapan Teknik STOP


C. Implementasi PSE dalam di Kelas dan Sekolah

Pembelajaran Sosial & Emosional tentunya pernah kita lakukan baik di kelas ataupun di lingkungan sekolah secara luas bahkan di rumah ataupun di lingkungan masyarakat sekitar kita. Dalam proses pembelajaran di kelas pengembangan KSE dimulai dari  saat kita mengkodisikan siswa secara psikologis dan berdo'a sebelum belajar agar dapat memunculkan kesadaran diri dari siswa untuk memahami kebutuhan mereka pada saat itu. Dalam rentang waktu pembelajaran anak berdiskusi di kelas baik mengatasnamakan diri sendiri ataupun kelompok maka para siswa dilatih untuk melakukan manajemen diri untuk mengontrol emosi dalam berpendapat serta melatih empati terhadap orang lain yang secara tidak disadari dapat menumbuhkan kesadaran sosial serta melalukan negosiasi antar kelompok saat berdikusi dapat melatih keterampilan berelasi dan tentunya presentasi yang dilakukan oleh siswa terhadap hasil analisis yang dilakukan merupakan bentuk latihan dalam menumbuhkan pengambilan keputusan yang bertanggungjawab. Begitupun ketika kita di keluarga dengan aktivitas musyarawah dalam menentukan arah liburan ataupun di masyarakat saat memimpin rapat dalam organisasi karangtaruna.

D. REFLEKSI (4f)

Refleksi dari implementasi yang telah dilakukan untuk pengembangan PSE diantaranya 

1. Peristiwa

Dalam pengimplementasian  KSE dalam pembelajaran yang terlihat adalah bagaimana proses pembelajaran yang dirancang menggunakan pemahaman KSE dapat lebih membangun kepercayaan diri dari para siswa untuk berkonstribusi secara penuh ataupun sebagian selama proses pembelajaran dan muncul karakter-karakter unik ataupun kemampuan lain yang muncul dan tidak diprediksikan sebelumnya. Proses pembelajaran relatif lebih hidup dan para siswa merasa mampu menempatkan diri sesuai dengan posisi dalam kelasnya atau kelompoknya saat berdiksusi.


Gambar Project pembuatan pot dari spanduk bekas 
secara berkelompok dengan bentuk yang dibebaskan

2. Perasaan

Pada proses pembelajaran dengan perencanaan menggunakan KSE dapat dirasakan lebih tenang dan  memudahkan serta lebih terarah dalam menerapkan titik berat pengembangan kompetensi siswa khususnya bagi siswa SMK yang menunjang terhadap kemampuan softskill yang diperlukan bagi para siswa untuk persiapan memasuki dunia kerja. Membuka wawasan bagi guru untuk semakin mendalami karakter unik dari setiap siswa dari segi sikap yang ditunjukan selama proses pembelajaran yang terkadang tidak muncul jika kita tidak memberikan pemantik terhadap kondisi tersebut kepada siswa.

3. Pembelajaran 

Hal yang bermanfaat dari proses tersebut diantaranya :

  1. Semakin mengagumi kekuasaan dari Allaah SWT terhadap keberagaman manusia dalam hal ini para siswa yang beraneka ragam serta unik sekalipun siswa nampak kembar identik dari segi fisik
  2. Berfikir positif terhadap lingkungan sekitar kita baik lingkungan sosial maupun lingkungan alam
  3. Kesadaran penuh (mindfullness) secara nyata dapat memberikan energi baru untuk berproses menjadi lebih baik
  4. Menguatkan kolaborasi sebagai sesuatu hal yang penting dan harus dilakukan dalam membangun ekosistem sekolah yang sejahtera atau wellbeing
  5. Semakin mendekatkan secara emosional antara guru dan siswa

4. Umpan balik

Umpan balik yang diperoleh dari implementasi pembelajaran dengan meningkatkan KSE adalah menumbuhkan kesadaran diri mengenai pentingnya belajar sepanjang hayat dengan belajar kapan saja, dimana saja, dari siapa saja dan di lingkungan mana saja. Setiap orang, setiap waktu, setiap kondisi adalah sumber belajar yang dapat memperkaya hati kita untuk lebih memahami diri sebagai makhluk sosial yang senantiasa membutuhkan oranglain sehingga kita dapat menjadi seseorang yang lebih bijak dalam menyikapi masalah. Penerapan mindfulness dalam sela waktu bekerja membuat kita dapat lebih fokus dan terarah dalam menentukan proses selanjutnya.

5. Penerapan

Dalam proses pembelajaran yang harus diperbaiki adalah perencanaan dalam pembelajaran yang teintegrasi dengan beberapa point diantaranya diferensiasi pembelajaran serta penerapan KSE secara tertulis dan tentunya hal tersebut memerlukan kolaborasi bersama rekan sejawat khususnya yang tergabung dalam kelompok kerja guru pada mata pelajaran tertentu. 

Pada lingkungan sekolah yang lebih luas diperlukan program berkesinambungan yang digagas bersama top manajemen di sekolah untuk penyesuaian terhadap Kurikulum Operasional Sekolah yang mengarah kepada penajaman visi dan misi sekolah itu sendiri terhadap implementasi penguatan kompetensi sosial dan emosi siswa.

Pada dasarnya keseluruhan implementasi pembelajaran sosial & emosional memberikan imbas kepada penguatan enam (6) dimensi Profil Pelajar Pancasila yaitu Beriman dan Bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta berakhlak mulia, mandiri, bergotong royong, bernalar kritis , kreatif dan berkebinekaan global.

Selasa, 18 Juni 2024

KONEKTIVITAS MODUL 2.1. PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI

Pembelajaran pada dasarnya merupakan sebuah proses untuk mengembangkan mencapai tujuan pendidikan sebagaimana Ki Hadjar Dewantara telah menyampaikan mengenai maksud dari Pendidkan yaitu menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada murid baik sebagai manusia maupun anggota masyarakat untuk mencapai kesemalatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya. Para murid sebagai manusia ciptaan Allaah SWT yang telah dikaruniakan dengan segala keunikan dan potensi yang dimiliki sesuai dengan kodrat serta lingkungan dan zamannya yang berbeda-beda. 

Dalam proses pendidikan maka guru sebagai pendidik seyogyanya dapat memahami kondisi perbedaan yang dimiliki oleh setiap murid sebagai manusia yang unik berasal dari keluarga dan lingkungan yang berbeda yang menunjukan identitas diri yang berbeda pula sehingga guru sebagai pendidik diharapkan mampu menjembatani kebutuhan pendidikan bagi para murid melalui proses pembelajaran yang dapat memenuhi perbedaan-perbedaan tersebut melalui kegiatan pembelajaran berdiferensiasi.

A. Pembelajaran Diferensiasi

Pembelajaran diferensiasi diartikan sebagai rangkaian keputusan masuk akal (common sense) yang dibuat oleh guru dengan berorientasi kepada kebutuhan murid. Keputusan yang dimaksudkan meliputi kurikulum yang diejawantahkan secara jelas melalui tujuan pembelajaran, cara merespon guru terhadap kebutuhan belajar, lingkungan belajar murid, manajemen kelas yang efektif serta penilaian yang berkelanjutan. Hal tersebut dapat tertuang dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).

Menurut Tomlison (2001) bahwa guru dapat mengelompokan kebutuhan belajar murid dalam 3 kategori/aspek yaitu 1) Kesiapan belajar, 2) Minat Murid, 3) Profil Belajar Murid.

1. Kesiapan Belajar melihat dari presfektif kontinum dengan mengadaptasi alat yang disebut Equilizer

Sumber : https://www.kompasiana.com/dwiastono13/6372ef6d08a8b55dc4352e24/cgp-coach-penerapan-pembelajaran-berdiferensiasi


Dengan penerapan 6 komponen yatu 
  1. Bersifat mendasar - Bersifat Transformatif (Apakah seorang murid mampu memikirkan dan menciptakan pemikiran baru dari bahan atau tugas yang diberikan?)
  2. Kongret - Abstrak (Apakah  seorang murid masih memerlukan alat bantu ataukah dapat mempelajari sesuatu yang lebih abstrak?)
  3. Sederhana - Kompleks (Apakah seorang murid mampu memecahkan satu masalah atau beberapa masalah dalam satu waktu?)
  4. Terstruktur - Terbuka (Apakah seorang murid memerlukan tahapan yang jelas dalam menyelesaikan masalah atau menggunakan kreativitas mereka?)
  5. Tergantung - Mandiri (Apakah seorang murid mampu bekerja secara mandiri atau masih memerlukan bantuan orang lain?)
  6. Lambat - Cepat (Apakah seorang murid mampu menyelesaikan masalah tepat waktu atau memerlukan waktu tambahan?)
2. Minat Murid
   Minat dapat dikatakan sebagai motivator bagi murid dalam proses pembelajaran. Minat itu sendiri terbagi dalam 2 presfetif yaitu Minat Situasioal yang melibatkan psikologis dari murid yang yang berikutnya adalah minat Individu yang menunjukan kecenderungan individu dalam mempelajari sesuatu dalam jangka waktu yang lama. 

3. Profil Belajar Murid
  Profil belajar murid dipengaruhi oleh 4 (empat) faktor yaitu lingkungan belajar murid, pengaruh budaya, gaya belajar murid (visual, audio, audiovisual) serta kecerdasan majemuk (visual - spasial, musical, boily-kinestetik, interpresonal, intrapersonal, verbal - linguistik, naturalis, logic-matematic)

Diferensiasi Pembelajaran meliputi :
  1. Diferensiasi Konten (Materi pembelajaran yang dipelajari oleh para murid
  2. Diferensiasi Proses (Cara/metode pembelajaran yang dilakukan oleh guru terhadap para murid untuk mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan)
  3. Diferensiasi Produk (Metode yang dilakukan oleh guru untuk mengetahui tingkat penguasaan murid dalam memahami konten yang diberikan.
B. Implementasi Pembelajaran Diferensiasi di Kelas

   Pembelajaran diferensiasi di kelas dapat diejawantahkan dalam bentuk Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) memulai dari identitas RPP, Tujuan Pembelajaran, Metode Pembelajaran, Media Pembelajaran, Sumber Pembelajaran, Kegiatan Proses Pembelajaran, serta Asesmen yang digunakan.  Asesmen Prapembelajaran atau yang sebelumnya dikenal sebagai asesmen diagnostik dapat dijadikan sebagai upaya pemenuhan kebutuhan belajar siswa mulai dari kesiapan belajar, minat, serta profil belajar siswa. 
   Dari hasil Asesmen Prapembelajaran guru dapat mengetahui sejauh mana para murid memiliki pengetahuan dasar mengenai konten materi yang akan dipelajari, selain itu pula guru berkolaborasi dengan guru BK ataupun kesiswaan untuk melihat hasil tes minat bakat murid ataupun data dapodik murid untuk melihat latar belakang siswa secara holistik sehingga dapat membantu guru dalam memulai kesiapan belajar siswa dan menentukan metode belajar serta lingkungan belajar yang tepat bagi para murid dalam proses pembelajaran.

Dokumentasi Pribadi

    Pada kondisi pembelajaran di tengah semester, guru dapat berkolaborasi dengan walikelas untuk memperoleh referensi baru mengenai kondisi murid terkini apabila dirasakan terdapat perubahan pribadi murid yang tidak biasa selama proses pembelajaran berlangsung.
    Salah satu hal terpenting bagi guru dalam mengimplementasikan pembelajaran diferensiasi di kelas adalah senantiasa melakukan refleksi terhadap proses pembelajaran yang telah dilakukan dan masukan dari murid.

C. Keterkaitan Pemenuhan Kebutuhan Belajar Murid dengan Capaian Hasil Belajar

Pembelajaran diferensiasi secara nyata mampu memberikan kebutuhan belajar murid dalam melaksanakan proses pembelajaran untuk mencapai hasil belajar yang optimal. Hasil belajar yang dimaksudkan bukan hanya sekedar hasil secara pengetahuan atau yang mengasah kepada kognitif tetapi bagaimana Olahrasa, Olahraga, Olahkarsa, dan Olahkarya dapat dioptimalkan dalam proses pembelajaran berdiferensiasi. Pencapaian utama dalam sebuah pendidikan melalui proses pembelajaran diferensiasi mampu mengoptimalkan pembentukan karakter Profil Pelajar Pancasila. 

Dokumentasi Pribadi

Visi yang diwujudkan dalam prakarsa perubahan untuk terwujudnya 6 (enam) dimensi dari Profil Pelajar Pancasila tentunya mengembalikan proses pembelajaran yang berpihak pada murid sehingga murid dalam melaksanakan pembelajaran dengan nyaman, aman, dan bahagia sehingga terbentuk ekosistem sekolah yang wellbeing.



Sabtu, 11 Mei 2024

PROJECT BASED LEARNING KERUANGAN SERTA KONEKTIVITAS RUANG DAN WAKTU

 A. Project Lingkungan Sosial Muri

A.1. Membuat Grafik Batang Pemetaan Kondisi Kelas

Tujuan : Meningkatkan kemampuan literasi numeras pada siswa melalui pembuatan grafik Batang Pemetaan Kondisi Kelas

Cara Kerja :

  1. Membuat tabel informasi yang memuat nama, tempat tanggal lahir, jenis kelamin, jumlah anggota keluarga termasuk ayah dan ibu, alamat tinggal, kelurahan, kecamatan, dan hobi.
  2. Menuliskan nama-nama terlebih dahulu pada buku yang sudah dibuat tabel informasi.
  3. Masing-masing siswa menuliskan informasi yang termuat dalam tabel informasi di kertas yang diberikan oleh guru kemudian ditempel di satu fokus tempat yang sama untuk masing-masing kelompok menggunakan double tip
  4. Melalui metode windowshoping, para siswa menempelkan identitas masing-masing individu secara berkelompok di satu tempat kemudian menuliskan informasi kedalam tabel informasi yang telah dibuat berdasarkan urutan absen siswa
  5. Setelah data terkumpul dilanjutkan dengan membuat tabel informasi jumlah yang memuat  jenis kelamin, jumlah anggota keluarga termasuk ayah dan ibu, alamat tinggal, kelurahan, kecamatan, dan hobi dari keseluruhan siswa dikelas
  6. Membuat grafik batang sesuai dengan tabel yang telah dibuat pada perintah nomor 5
  7. Melakukuan presentasi kelompok dalam diskusi kelas

A.2. Membuat Tabel Informasi Penduduk di Lingkungan RT
Tujuan : Meningkatkan kemampuan kesadaran siswa sebagai individu dalam masyarakat dengan mengenal lingkungan RT

Cara kerja :
  1. Membuat daftar wawancara kepada ketua RT atau pemangku daerah setempat mengenai jumlah kepala keluarga, anak-anak balita, anak remaja, lansia, dan ibu hamil
  2. Melakukan wawancara dengan ketua RT atau wakilnya
  3. Mendokumentasikan kegiatan wawancara
  4. Menuliskan data hasil wawancara dalam bentuk tabel
  5. Meminta penilaian kepada ketua RT atau yang mewakili terhadap keberanian dalam berkomunikasi mengenai tugas tersebut pada rentang penilaian 85 - 100 yang kemudian ditanda tangani oleh Ketua RT atau yang mewakili
  6. Dokumentasikan hasil wawancara dalam bentuk foto kemudian uploadkan tugas ke google drive pengumpulan tugas beserta dokumentasi foto/video saat wawancara
A.3. Implementasi P5 tema Kearifan Lokal
Tujuan : 
  1. Meningkatkan kepedulian siswa terhadap kearifan lokal yang ada di daerah setempat khususnya Jawa Barat
  2. Meningkatkan rasa cinta tanah air dan bangsa dengan mengusung kearifan lokal yang ada di daerahnya
Cara Kerja :
  1. Para siswa dikelompokan melalui permainan yang disepakati bersama dengan masing-masing kelompok sebanyak 5-6 orang
  2. Masing-masing kelompok menentukan 1 (satu) kearifan lokal yang ada di Jawa Barat dengan jenis kearifan lokal yang tidak boleh sama
  3. Membuat alur presentasi kelompok dengan metode drama/nuansa mengenai kearifan lokal yang diangkat
  4. Masing-masing kelompok melakukan presentasi di kelas dengan durasi masing-masing kelompok maksimal 15-20 menit
  5. Masing-masing kelompok memberikan penilaian terhadap kelompok lainnya