Senin, 09 September 2024

KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 3.3. PENGELOLAAN PROGRAM YANG BERDAMPAK PADA MURID

Pengelolaan program yang berdampak pada murid sebagai upaya dalam mengoptimalkan kemampuan murid. Melalui filosofi pendidikan Ki Hadjar Dewantara dan metafora "menumbuhkan padi" mengingakan kita mengenai proses pembelajaran yang seharusnya berpihak kepada murid melalui kegiatan secara sadar dan terencana untuk membangun ekosistem welbeing sehingga mampu mengembangkan potensi mereka sesuai dengan kodratnya.

A. Pemikiran reflektif terkait pengalaman belajar

Pengalaman/materi pembelajaran yang baru saja diterima berkenaan dengan pengelolaan program yang berdampak pada murid semakin menguatkan peran guru dalam mewujudkan kepemimpinan murid serta pembelajaran yang berpihak kepada murid dengan segala potensi yang dimiliki oleh para murid serta melalui proses pembelajaran yang menumbuhkembangkan Kompetensi Sosial Emosional pada siswa meliputi 1)kesadaran diri, 2) manajemen diri, 3) kesadaran sosial, 4) keterampilan berelasi, dan 5) pembuat keputusan yang bertanggungjawab secara bertahap menjadi sandaran bagi kita sebagai guru dalam proses Tranfer of Value.

Pemahaman tersebut membangun emosi-emosi yang dirasakan selama proses pembelajaran diantaranya kebahagiaan dalam mencoba membangun kepercayaan kepada para murid dalam menentukan keinginan proses belajar yang mereka inginkan serta kebebasan yang diberikan dilakukan sebagai bentuk kominten bagi mereka dalam menjalankan prosesnya dan hal tersebut menjadi sebuah kebanggaan bahwa para murid dapat melakukan seperti yang diharapkan jika mereka melakukan sesuai dengan "hati" sesuai dengan harapan mereka.

Pada proses pembelajaran, para murid dapat mempertahankan apa yang sudah baik menurut mereka dan menjadi sebuah komitmen bagi diri mereka sendiri sehingga tidak ada merasa "terpaksakan" saat belajar kendati tentunya hal ini memerlukan proses yang bertahap dengan segala karakter unik yang dimiliki oleh para murid sehingga sebagai guru memerlukan sebuah pemikiran yang matang dalam memberikan waktu bagi para murid untuk berproses terhadap diri mereka sendiri.

Beberapa hal yang perlu diperbaiki terkait keterlibatan para murid dalam proses belajarnya adalah kemampuan dalam memahami potensi baik minat maupun bakatnya juga termasuk memahami dirinya dalam kemampuan bidang akademiknya, sehingga para murid dapat fokus terhadap prioritas apa yang diharapkan oleh diri mereka sendiri sebagai bentuk "keyakinan diri" terhadap nilai positif yang dimiliki dan perlu untuk dikembangkan.

Implikasi dari apa yang sudah diyakini dan dilaksanakan oleh para murid tentunya berimbas terhadap kompetensi dan kematangan diri pribadi sebagai individu yang sudah mampu mengambil keputusan yang bertanggungjawab melalui proses negosiasi terhadap dirinya sendiri melalui kesadaran yang dimiliki serta negosiasi terhadap lingkungan sekitarnya yang mengasah kemampuan dan keterampilan sosialnya.

B. Analisis untuk Implementasi dalam konteks CGP

Sebenarnya apa yang dimaksud dengan Pengelolaan Program yang berdampak pada murid?

Pertanyaan ini muncul sebagai bentuk untuk mencari jawaban mengenai pentingnya pengembangan kompetensi para murid dalam keterlibatannya terhadap program-program baik intra kurikuler, ko kurikuler dan ekstrakurikuler yang dapat mendukung potensi kepemipinan bagi murid. Program yang mampu memberikan kesempatan kepada para murid dalam mengembangkan kapasitasnya dalam mengelola pembelajaran mereka sendiri. Mendorong kepemimpinan murid dapat membentuk karakter individu murid yang lebih bertanggung jawab, kontributif tetapi juiga mengasah kemampuan kolaboratif yang dapat dijadikan sebagai pengalaman bermakna yang mungkin dapat dirasakan kebermanfataannya secara luas.

Pemahaman materi terhadap apa yang sudah dipelajari oleh para murid seyogyanya dapat memiliki wawasan yang lebih luas ataupun "insight" baru dalam bidang keilmuan tertentu sehingga membantu para murid terhadap kondisi kontekstual yang ada di lingkungan sekolah.

Tantangan yang dihadapi dalam menumbuhkembangkan kepemimpinan murid di sekolah adalah keberagaman siswa yang banyak dengan berbagai karakter yang dimiliki termasuk latarbelakang para murid baik lingkungan keluarga maupun sosial masyarakat di sekitar tempat tinggalnya. Sehingga tentunya asesmen pra pembelajaran diperlukan bagi guru yang dapat dijadikan sebagai dasar bagi guru dalam membuat stratetegi pembelajaran melalui pendekatan atau model dan metode pembelajaran yang sesuai. Pengelolaan melalui pembelajaran terdiferensiasi diharapkan dapat menjembatani kebutuhan para murid dalam mengembangkan potensi belajarnya serta mampu memberikan kontribusi dirinya terhadap lingkungan belajarnya. Kolaborasi rekan sejawat diperlukan dalam menyamakan visi terhadap proses pembelajaran yang diharapkan bersama.

Dalam mewujudkan jawaban terhadap tantangan yang dimiliki tentunya kolaborasi internal sekolah melalui rekan sejawat yaitu MGMP ataupun di lingkungan yang lebih luas yaitu MGMP Kota maupun Provinsi dalam bentuk sharing praktik baik terhadap praktik-praktik kepemimpinan para murid.

3. Intisari materi

Kepemimpinan murid (student agency)  merupakan salah satu Upaya dalam mewujudkan Profil Pelajar Pancasila, yaitu beriman dan bertakwa serta berakhlak mulia, berkebinekaan global, mandiri, bergotong royong, bernalar kritis, dan kreatif. Para murid dapat diwujudkan melalui kepemimpinan dalam proses pembelajaran yang sebenarnya memiliki suara (voice), pilihan (choice), dan kepemilikan (ownership). Melalui suara, pilihan, dan kepemilikan para murid dapat mengembangkan kapasitas dirinya sebagai pemilik dalam proses belajarnya.

Tugas guru adalah menyediakan lingkungan yangdapat  menumbuhkan budaya agar para murid memiliki keleluasaan dalam menyampaikan suara, pilihan, dan kepemilikannya terhadap apa yang mereka pikirkan dan inginkan dengan direfleksikan melalui tindakan mereka. Karakteristik lingkungan yang dimaksudkan dalam menumbuhkembangkan kepemimpinan murid adalah 1) Menyediakan kesempatan untuk murid menggunakan pola pikir positif dan merasakan emosi yang positif, 2) Keterampilan berinteraksi sosial secara positif, 3) Keterampilan dalam proses pencapaian tujuan akademik maupun non-akademik, 4) Menerima dan memahami kekuatan diri, sesama, serta masyarakat dan lingkungan di sekitarnya, 5) Membuka wawasan menentukan dan menindaklanjuti tujuan, harapan atau mimpi yang manfaat dan kebaikannya melampaui pemenuhan kepentingan individu, kelompok, maupun golongan, 6) Menempatkan murid sedemikian rupa sehingga terlibat aktif dalam proses belajarnya sendiri, 7) Menumbuhkan daya lenting dan sikap tangguh murid untuk terus bangkit di tengah kesempitan dan kesulitan.

4. Membuat keterhubungan

Pengalaman masa lalu dalam proses pembelajaran memang dirasakan tingkat kepercayaan terhadap para murid memerlukan banyak pertimbangan, kekurang yakinan terhadap potensi para murid sebenarnya membuat kita terkadang kurang fokus dan lebih banyak mengevaluasi atau "trial n eror" terhadap metode pembelajaran yang disajikan dan cenderung para murid menjadi lebih pasif dan tujuan diharapkan sesuai dengan yang kita inginkan.

Setelah mempelajari dan mengimplementasikan materi-materi yang telah dipelajari selama mengikuti program guru penggerak ini lebih membuka mata hati dan mata diri kita terhadap makhluk ciptaan Allaah SWT yang telah diciptakan dengan segala bentuk kesempurnaannya dan saat penerapan dilakukan mulai dari memberikan kepercayaan kepada para murid dapat dijadikan sebagai bentuk rasa syukur atas kekuasaan Allaah SWT bahwasannya potensi para murid luar biasa dan memudahkan kita dalam berkolaborasi dengan para murid selama proses pembelajaran berlangsung, ketika para murid dilibatkan mulai dari perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi dengan memberikan kesempatan seluas-lulasnya kepada murid memiliki dampak yang cukup besar terhadap paradigma yang selama ini ada dalam benak diri. Para murid memiliki kemampuan serta tanggung jawab yang luar biasa terhadap apa yang mereka rancang dan dikerjakan, mereka lebih memahami mengenai arti tanggung jawab dan konsekuensi.

Modul 1.1. Filosofi Ki Hajar Dewantara yaitu Guru melalui peran strategisnya dalam menuntun segala kodrat yang dimiliki oleh anak-anak untuk mencapai kesejahteraan dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusaiaan sebagai individu sosial. Dalam pengelolaan program sekolah yang berdampak pada murid tentunya kita sebagai guru harus dapat melibatkan murid dan memperhatikan pengembangan potensi sesuai dengan kodrat alam dan kodrat zamannya melalui pengelolaan cipta, karsa, rasa, dan karya.

Modul 1.2. Nilai dan peran guru penggerak melalui Nilai-nilai dari seorang guru penggerak yaitu mandiri, reflektif, kolaboratif, inovatif dan berpihak pada murid tidak terlepas dari cita-cita mulia dalam mewujudkan Profil Pelajar Pancasila. Dalam menjalankan perannya, seorang guru tidak hanya cukup sebagai pemimpin pembelajaran di kelas, namun juga memiliki tanggung jawab sebagai pemimpin dalam pengelolaan program sekolah yang berpihak pada murid dalam mewujudkan kepemimpinan murid.

Modul 1.3.  Visi guru penggerak  dimana Guru tentunya memiliki visi yang mengarah kepada perubahan, baik perubahan di kelas atau perubahan di sekolah. Subjek perubahan visi yang dimaksudkan adalah para murid dengan menggunakan  pendekatan manajemen perubahan. Manajemen pendekatan perubahan disebut Inkuiri Apresiatif (IA). Dalam merencanakan dan mengelola program yang berdampak pada murid dilakukan dengan menggunakan pendekatan inkuiri apresiatif model BAGJA dengan memetakan aset atau sumber daya sekolah, dan mengembangkan aset atau potensi yang bisa dikembangkan untuk merencanakan program sekolah yang berdampak pada murid.

Modul 1.4.  Budaya Positif  berupa lingkungan yang dapat menumbuhkembangkan perkembangan potensi, minat dan profil belajar murid terutama kekuatan kodrat yang dimilikinya. Pemahaman mengenai hukuman, konsekuensi dan restitusi mampu menguatkan para guru dalam memahami terhadap pengembangan nilai-nilai budaya positif kepada para murid.

Modul 2.1. Pembelajaran untuk memenuhi kebutuhan belajar murid dimana para guru memaksimalkan potensi dalam pengelolaan kelas dengan keberpihakan kepada murid dengan menggunakan pembelajaran berdiferensiasi sebagai bentuk layanan “service excellent” dalam hal proses pembelajaran. Pembelajaran berdiferensiasi dapat menjadi salah satu solusi terhadap keberagaman karakteristik dan kecerdasan murid. Fokus pembelajaran tentunya pemenuhan terhadap kebutuhan belajar, minat dan profil belajar murid. Hal ini dilakukan untuk mengetahui aset atau kekuatan yang dimiliki oleh murid dalam mewujudkan pengembangan kompetensi yang diharapkan khususnya penguatan Profil Pelajar Pancasila.

Modul 2.2 Pembelajaran emosional dan sosial melalui paradigma pembelajaran bukan hanya terbatas pada transfer of knowledge tetapi juga tranfer of value Guru diharapkan mampu mengembangkan kompetensi sosial pada diri murid. Teknik kesadaran diri (mindfulness) menjadi strategi pengembangan lima kompetensi sosial emosional yang didasarkan pada program yang berpihak pada murid dan mewujudkan merdeka belajar dan budaya positif di sekolah.

Modul 2.3. Coaching untuk supervisi akademik  sebagai salah satu teknik atau strategi seorang pemimpin pembelajaran dalam  menuntun anak dan menggali potensi yang dimiliki oleh para murid.  Coaching juga memberikan keleluasaan bagi perkembangan para murid dalam menggali proses berpikir positif mengenai potensi yang dimiliki. Coaching memiliki tujuan utama dalam memberdayakan potensi yang dimiliki melalui diskusi rekan sejawat agar memperoleh pemahaman yang sama dalam menumbuhkan strategi dalam mengembangkan kepemimpinan murid untuk mencapai tujuan pendidikan yaitu keselamatan dan kebahagiaan anak setinggi-tingginya.

Modul 3.1. Pengambilan keputusan berdasarkan nilai-nilai kebajikan seorang pemimpin tentunya Guru sebagai seorang pemimpin pembelajaran diperlukan kemampuan dalam pengambilan Keputusan secara bijak yang berpihak pada murid. Dasar, prinsip, paradigma atau nilai dalam pengambilan keputusan harus konsisten, terutama berkaitan dengan dilema etika atau bujukan moral sehingga menghasilkan Keputusan yang  bertanggungjawab.

Modul 3.2. Pemimpin dalam pengelolaan sumber daya bahwa Guru sebagai pemimpin pembelajaran tentunya harus memiliki kemampuan dalam mengidentifikasi asset/modal  yang ada di sekolah, baik aset fisik maupun non fisik untuk keberlangsungan proses pembelajaran yang berpihak kepada murid. Dengan menggunakan pendekatan berbasis aset/kekuatan (asset based thinking) mampu mengoptimalkan potensi yang dimiliki oleh sekolah sebagai komunitas belajar, melalui paradigma berpikir positif yang dimiliki oleh sekolah terhadap aset yang dimiliki, maka pengelolaan program yang berdampak pada murid dapat terencana, terlaksana dan terevaluasi dengan benar melalui kolaborasi bersama.

Modul 3.3. Pengelolaan program yang berdampak positif pada murid sebagai modul terakhir yang menuntun para guru untuk memiliki pola pikir positif dalam mewujudkan kepemimpinan murid melalui pertimbangan-pertimbangan serta  kebijakan yang mendukung terhadap visi perubahan melalui dukungan 7 (tujuh) karakter lingkungan yang dimiliki.

 Informasi yang diperoleh mengenai program yang berdampak pada murid di luar bahan ajar CGP adalah melalui kegiatan sharing praktik baik yang dilaksanakan pada saat kunjungan studi banding antar sekolah, informasi kegiatan dari MGMP mata pelajaran lainnya, informasi yang diperoleh saat melakukan kolaborasi dan kerjasama kemitraan dengan lembaga atau instansi lain termasuk kemitraan industri bahwasannya potensi para murid yang merupakan Gen-Z cenderung memiliki update wawasan yang lebih cepat serta pola adaptasi terhadap teknologi yang lebih mudah mengadaptasi sehingga perlu kiranya hal tersebut dapat dioptimalkan dalam proses pembelajaran dengan segala kelebihan yang dimiliki oleh para murid sebagai bentuk pembelajaran sesuai dengan zamannya.

5. Presfektif terhadap Program yang berdampak kepada kepemimpinan murid

Program yang berdampak positif pada murid tentunya adalah program-program yang mampu melibatkan kepemimpinan murid (student agency) melalui kesempatan dengan mempromosikan suara, pilihan dan kepemilikan yang dimiliki oleh para murid sehingga dapat mewujudkan ekosistem sekolah yang wellbeing. Para murid dengan berbagai keragaman potensi dan bakat yang dimiliki tentunya dapat  tergali dan dituntun untuk mewujudkan kebahagian yang setinggi-tingginya.

Mengenalkan program atau kegiatan sekolah mulai dari perencanaan, pelaksanaan dan refleksi evaluasi dilakukan secara kolaboratif melalui pemberdayaan aset/kekuatan sumber daya yang dimiliki sekolah sehingga dapat memberikan dampak yang holistik bagi pengembangan potensi para murid.

Perencanaan program dapat dilaksanakan berlandaskan prinsip kolaboratif baik dengan para murid ataupun rekan sejawat melalui peruwjudkan karakteristik lingkungan  yang menumbuhkembangkan kepemimpinan murid berdasarkan 7 aset/modal yang dimiliki sekolah. Prakarsa perubahan diperlukan melalui  paradigma inkuiri apresiatif BAGJA sehingga dapat  memberikan ruang murid pada suara, pilihan dan kepemilikan.

Pelaksanaan program yang memberdayakan potensi murid sebagai pemimpin dapat diimplementasikan  dalam proses belajarnya sendiri. Murid mampu mempromosikan suara, pilihan, kepemilikan sendiri melalui proses yang memerdekakan sehingga para murid mampu menjadi seorang  agen perubahan dan guru menjadi mitra belajar yang baik bagi para murid melalui proses menuntun dan memberikan umpan balik atas capaian perkembangan belajar murid.

Evaluasi  program dapat dilakukan atas kesepakatan dan kolaborasi antara guru dan murid yang dilakukan mulai dari tahapan penilaian yang sistematis, berkala dan berkelanjutan dengan menghasilkan sebuah refleksi dan tindak lanjut yang jelas mengenai seberapa efektif dampak positif yang diharapkan dapat tercapai.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar