Selasa, 20 Januari 2026

PERILAKU EKONOMI

A. KEBUTUHAN DAN KELANGKAAN

A.1. Definisi Kebutuhan dan Keinginan

Menurut KBBI kebutuhan merujuk kepada segala sesuatu yang sifatnya mendasar dan wajib dipenuhi untuk mempertahankan hidup dalam untuk mencapai kesejahteraan dan mempertahankan kelangsungan hidup. Adapun keinginan lebih bersifat subjektid dan seringkali dipengaruhi oleh perasaan atau nafsu, bukan karena faktor kelangsungan hidup.

Kebutuhan menurut para Ahli :

  • Abraham Maslow: Terkenal dengan Hierarchy of Needs (Hirarki Kebutuhan). Ia berpendapat bahwa kebutuhan manusia bertingkat, mulai dari kebutuhan fisiologis (dasar), keamanan, sosial, penghargaan, hingga aktualisasi diri.

  • Philip Kotler (Pakar Pemasaran): Membedakan antara kebutuhan (needs), keinginan (wants), dan permintaan (demands). Kebutuhan adalah dasar biologis manusia, namun Keinginan adalah kebutuhan yang dibentuk oleh budaya dan kepribadian individu (misal: butuh makan, tapi inginnya Sushi).Tabel 1. Perandingan Pengertian Kebutuhan dan Keinginan

A.2. Definisi Kelangkaan

Kelangkaan adalah inti dari masalah ekonomi. Kelangkaan terjadi karena sumber daya yang tersedia terbatas, sedangkan kebutuhan manusia tidak terbatas.

Kelangkaan menurut para Ahli :

  • Lionel Robbins: Mendefinisikan ekonomi sebagai ilmu yang mempelajari perilaku manusia sebagai hubungan antara tujuan dan sarana langka yang memiliki kegunaan alternatif. Kelangkaan memaksa kita melakukan Pilihan (Choice).

  • Paul Samuelson: Menyatakan bahwa kelangkaan menuntut masyarakat untuk memutuskan: Apa yang akan diproduksi, Bagaimana cara memproduksinya, dan Untuk siapa barang tersebut diproduksi.

A.3. Faktor Penyebab Kelangkaan

  1. Keterbatasan Sumber Daya Alam: Krisis energi global.
  2. Pertumbuhan Penduduk: Meningkatnya permintaan lahan.
  3. Kerusakan Ekosistem: Berkurangnya air bersih akibat polusi.
  4. Letak Geografis: Sulitnya akses distribusi di daerah terpencil.

A.4. Contoh kelangkaan sebagai strategi

Dalam pemasaran, kelangkaan sering digunakan sebagai Strategi Psikologis (Scarcity Marketing):

  • Fear of Missing Out (FOMO): Strategi pemasaran yang menciptakan kesan bahwa stok barang sangat terbatas atau diskon hanya berlaku dalam hitungan jam (misal: Flash Sale Shopee).

  • Kelangkaan Perhatian (Attention Scarcity): Di era digital, informasi melimpah, tapi perhatian konsumen sangat langka. Brand berupaya keras memenangkan "perhatian" audiens dalam 3 detik pertama di media sosial.

  • Kelangkaan Data Pribadi: Dengan adanya regulasi privasi (GDPR/UU PDP), data konsumen yang berkualitas menjadi langka, memaksa pemasar menggunakan cara yang lebih etis dan kreatif dalam membidik pasar.

Industri pariwisata sangat bergantung pada sumber daya yang langka dan tidak dapat diperbarui:

  • Kelangkaan Destinasi Unik: Destinasi wisata yang masih "asri" dan belum terjamah massal menjadi komoditas langka yang mahal.

  • Overtourism (Kelangkaan Kapasitas): Ketika jumlah turis melebihi kapasitas daya tampung lingkungan (seperti kasus pembatasan kuota naik ke Candi Borobudur atau Komodo). Di sini, "ketenangan" menjadi barang langka.

  • Kelangkaan SDM Kompeten: Industri pariwisata saat ini kekurangan tenaga kerja yang memiliki keahlian hospitality sekaligus melek teknologi digital (misal: manajemen hotel berbasis AI).

Adapun contoh kelangkaan pada berbagai kompetensi disertai dampak dan solusi
        Tabel 2. Tabel kelangkaan, dampak, dan solusi kontekstual


B. TINDAKAN, MOTIF, DAN PRINSIP EKONOMI

B.1. Tindakan Ekonomi

Tindakan ekonomi adalah segala upaya manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya agar mencapai kemakmuran. Tindakan ini harus bersifat rasional (berdasarkan akal sehat) agar hasil yang didapat maksimal.

Menurut para Ahli :

  • Max Weber: Menekankan pada Tindakan Rasional Instrumental, yaitu tindakan yang ditentukan oleh harapan-harapan terhadap perilaku objek dalam lingkungan dan perilaku manusia lain dengan menggunakan harapan-harapan tersebut sebagai "syarat" atau "sarana" untuk mencapai tujuan.

  • Richard Thaler (Pakar Ekonomi Perilaku): Berpendapat bahwa manusia tidak selalu rasional secara sempurna. Dalam pemasaran, tindakan ekonomi sering dipengaruhi oleh "nudge" atau dorongan halus yang mempengaruhi psikologi pengambilan keputusan.

B.2. Motif Ekonomi

Motif ekonomi adalah alasan atau dorongan yang menyebabkan seseorang melakukan tindakan ekonomi.

Menurut para Ahli :

  • Kotler & Keller (Pemasaran): Motif konsumen membeli produk bukan hanya karena fungsinya, tapi karena Motif Emosional (status sosial, rasa bangga). Contoh: Seseorang membeli kopi Starbucks bukan hanya karena haus (kebutuhan), tapi motif harga diri/status (prestige).

  • John Tribe (Pakar Pariwisata): Menyebutkan adanya Motif Altruistik dalam pariwisata. Saat ini tren Voluntourism (wisata sambil menjadi sukarelawan) meningkat, di mana motif ekonominya bukan sekadar mencari kesenangan, tapi kontribusi sosial.

Jenis Motif Ekonomi :
  1. Motif Mencari Keuntungan: Mendapatkan laba sebesar-besarnya.
  2. Motif Memperoleh Kekuasaan: Menguasai pasar di suatu wilayah.
  3. Motif Sosial: Membantu sesama (misal: pariwisata berbasis komunitas).
  4. Motif Penghargaan: Agar dianggap sebagai trensetter atau brand bergengsi.
B.3. Prinsip Ekonomi

Prinsip ekonomi adalah panduan dalam kegiatan ekonomi untuk mencapai perbandingan rasional antara pengorbanan yang dikeluarkan dan hasil yang diperoleh. 

Inti Prinsip Ekonomi: 1) Mendapatkan hasil semaksimal mungkin dengan pengorbanan tertentu. 2) Mendapatkan hasil tertentu dengan pengorbanan sekecil mungkin.

Berikut adalah penjelasan prinsip ekonomi menurut pandangan para ahli yang disesuaikan dengan konteks keilmuan ekonomi modern :

1. Gregory Mankiw

N. Gregory Mankiw dalam bukunya "Principles of Economics" merumuskan 10 Prinsip Ekonomi, namun intinya terbagi dalam tiga bagian besar. Mengenai prinsip dasar pengambilan keputusan, ia menekankan:

  • Trade-off: Setiap orang menghadapi pertukaran. Untuk mendapatkan sesuatu, kita harus mengorbankan sesuatu yang lain.

  • Opportunity Cost (Biaya Peluang): Biaya dari sesuatu adalah apa yang kita korbankan untuk mendapatkannya.

  • Berpikir pada Margin: Orang rasional berpikir pada batas-batas (perubahan kecil dalam suatu rencana kerja).

2. Adam Smith

Dikenal sebagai Bapak Ekonomi, Adam Smith memandang prinsip ekonomi melalui kacamata "The Invisible Hand" (Tangan Tak Terlihat).

  • Menurutnya, prinsip ekonomi adalah tindakan individu yang mengejar kepentingan pribadinya namun secara tidak langsung memberikan manfaat bagi kesejahteraan masyarakat secara luas.

  • Efisiensi dicapai melalui spesialisasi atau pembagian kerja (division of labor).

3. Alfred Marshall

Marshall menekankan bahwa prinsip ekonomi berkaitan dengan kesejahteraan (welfare).

  • Ia melihat ekonomi sebagai studi tentang umat manusia dalam urusan bisnis biasa.

  • Prinsip ekonomi menurutnya adalah usaha manusia untuk memenuhi kebutuhan material guna mencapai kebahagiaan dan kesejahteraan, dengan mempertimbangkan elastisitas harga dan kepuasan marjinal.

4. Lionel Robbins

Robbins memberikan definisi yang sangat teknis mengenai prinsip ekonomi.

  • Menurutnya, prinsip ekonomi adalah hubungan antara tujuan yang tidak terbatas dengan sarana (alat pemuas) yang terbatas namun memiliki kegunaan alternatif.

  • Fokus utamanya adalah pada pilihan (choice) yang harus dilakukan manusia karena adanya kelangkaan.


     Tabel 3. Tabel contoh implementasi prinsip ekonomi

B.4. Contoh Kasus 

Kasus 1: Pemasaran Digital (Afiliator TikTok)

Siswa SMK jurusan Pemasaran mencoba menjadi affiliate marketer.

  1. Tindakan: Membuat konten video review produk setiap hari.
  2. Motif: Mencari tambahan uang saku (keuntungan) dan belajar skill digital marketing.
  3. Prinsip: Ia menggunakan HP yang sudah ada dan mencari pencahayaan alami (matahari) untuk membuat video agar tidak perlu modal besar (pengorbanan minimal) untuk mendapatkan komisi besar.

Kasus 2: Pariwisata (Tren Glamping/Staycation)

Sebuah pengelola penginapan di daerah wisata melihat tren Staycation sedang naik.

  1. Tindakan: Mengubah lahan kosong menjadi area Glamping (Glamorous Camping) yang estetik.
  2. Motif: Memperoleh keuntungan dari tren yang sedang viral di Instagram.
  3. Prinsip: Pengelola menggunakan bahan bangunan lokal (bambu dan kayu setempat) agar biaya konstruksi murah namun memberikan harga sewa tinggi karena menjual "pemandangan" dan "estetika".
C. KEGIATAN DAN PELAKU EKONOMI

C.1. Kegiatan Ekonomi

Secara umum, kegiatan ekonomi dibagi menjadi tiga: Produksi, Distribusi, dan Konsumsi.

  1. Produksi (Production):

    • Pandangan Adam Smith: Produksi adalah upaya menciptakan nilai guna melalui pembagian kerja (division of labor) untuk meningkatkan efisiensi.

    • Pandangan Jean-Baptiste Say: Produksi bukan menciptakan materi, tetapi menciptakan utility (kegunaan).

    • Tabel 4. Jenis-jenis Produsen

    • Tabel 5. Kategori Barang Produksi


  2. Distribusi (Distribution):

    • Pandangan David Ricardo: Menitikberatkan pada bagaimana hasil produksi dibagikan di antara faktor-faktor produksi (upah, sewa, dan laba).

    • Konteks Modern: Distribusi adalah aktivitas memindahkan produk dari produsen ke konsumen pada waktu dan tempat yang tepat.

    • Tabel 6. Jenis - Jenis Distributor

  3. Konsumsi (Consumption):

    • Pandangan John Maynard Keynes: Konsumsi adalah motor utama penggerak ekonomi. Tingkat konsumsi ditentukan oleh tingkat pendapatan (Disposable Income).

    • Tabel 7. Jenis-jenis Konsumen

C.2. Pelaku Ekonomi

Model yang paling umum digunakan adalah Circular Flow Diagram yang melibatkan empat pelaku utama:

  1. Rumah Tangga Konsumen (RTK): Penyedia faktor produksi (tenaga kerja, modal) dan pengguna barang/jasa.
  2. Rumah Tangga Produsen (RTP): Organisasi yang mengombinasikan faktor produksi untuk menghasilkan output.
  3. Pemerintah (Regulator): Menurut Richard Musgrave, pemerintah memiliki peran alokasi (penyediaan barang publik), distribusi (keadilan sosial), dan stabilisasi (ekonomi mikro/makro).
  4. Masyarakat Luar Negeri: Pelaku dalam perdagangan internasional (ekspor-impor).
    Tabel 4. Kegiatan dan Pelaku Ekonomi

D.KESETIMBANGAN

Harga kesetimbangan adalah titik harga di mana jumlah barang atau jasa yang diminta oleh konsumen (Demand) sama persis dengan jumlah barang atau jasa yang ditawarkan oleh produsen (Supply).

Hukum Permintaan dan Penawaran

  • Hukum Permintaan: Semakin tinggi harga, semakin sedikit jumlah barang yang diminta (Hubungan Berlawanan).

  • Hukum Penawaran: Semakin tinggi harga, semakin banyak jumlah barang yang ditawarkan oleh produsen karena ingin untung lebih besar (Hubungan Searah).

Menurut Para Ahli :
  • Alfred Marshall: Ekonom yang mempopulerkan grafik "Gunting" (Permintaan dan Penawaran). Ia berpendapat bahwa harga ditentukan oleh kedua belah pihak; penawaran sebagai satu mata pisau dan permintaan sebagai mata pisau lainnya. Keduanya harus bertemu untuk menciptakan "potongan" (harga).

Gambar 1 > Kurva Kesetimbangan Permintaan Penawaran

PROJECT

1. Project Marketing

Nama Project: "The Scarcity Campaign: Solusi Pemasaran Produk Lokal Berbasis Digital"

Deskripsi Project:

Siswa diminta untuk mendampingi satu UMKM lokal yang produknya kurang dikenal namun memiliki kualitas baik. Siswa harus merancang strategi pemasaran yang memanfaatkan prinsip ekonomi untuk meningkatkan penjualan.

Langkah-langkah (Output):

  1. Analisis Kebutuhan & Kelangkaan: Siswa melakukan survei pasar untuk menemukan apa yang "langka" atau sedang dibutuhkan konsumen saat ini (misal: camilan sehat rendah gula).

  2. Penerapan Prinsip Ekonomi: Membuat strategi iklan media sosial (TikTok/Instagram) dengan biaya seminimal mungkin (menggunakan pencahayaan alami, alat seadanya) namun mencapai jangkauan (reach) maksimal.

  3. Strategi Harga Kesetimbangan: Menentukan harga jual produk yang kompetitif setelah menghitung biaya produksi dan membandingkannya dengan harga kompetitor di marketplace.

  4. Eksekusi Motif Ekonomi: Menggunakan teknik Scarcity Marketing (seperti promo "Hanya untuk 10 pembeli pertama" atau "Stok Terbatas") untuk memicu tindakan ekonomi konsumen.

2. Project Usaha Layanan Pariwisata

Nama Project: "Agro-Edu Tour Design: Menciptakan Kesetimbangan Wisata Berkelanjutan"

Deskripsi Project:

Siswa diminta merancang sebuah paket wisata edukasi atau desa wisata yang mengedepankan efisiensi sumber daya dan pengalaman unik yang tidak tersedia di tempat lain (kelangkaan).

Langkah-langkah (Output):

  1. Identifikasi Potensi (Kelangkaan): Menemukan satu keunikan lokal yang jarang ditemui (misal: teknik membatik kuno atau kuliner langka) untuk dijadikan atraksi utama.

  2. Kegiatan & Pelaku Ekonomi: Memetakan peran warga lokal (RTK) sebagai pemandu, pengusaha katering lokal (RTP) sebagai penyedia makan, dan bagaimana koordinasi dengan Dinas Pariwisata (RTG).

  3. Penentuan Harga (Equilibrium): Membuat simulasi harga paket wisata untuk High Season dan Low Season. Siswa harus menentukan titik harga di mana kamar/paket tetap laku tanpa mengeksploitasi sumber daya secara berlebihan.

  4. Tindakan Ekonomi Hijau: Menyusun aturan wisata yang meminimalisir kerusakan lingkungan, sebagai bentuk tindakan ekonomi jangka panjang agar sumber daya wisata tidak punah (langka).



Senin, 12 Januari 2026

GIZI & KESEHATAN

Capaian Pembelajaran

Peserta didik mampu menerjemahkan data dan bukti dari berbagai sumber seperti tabel hasil, grafik, atau sumber data lain untuk membangun sebuah argumen dan dapat mempertahankan argumen tersebut dengan penjelasan ilmiah, mengomunikasikan proses dan hasil, dan melakukan refleksi diri terhadap tahapan kegiatan yang dilakukan. 

Tujuan Pembelajaran :

1. Memahami konsep zat gizi pada tubuh
2. Membuat Project implementasi pemahamann zat gizi bagi tubuh sebagai upaya pencegahan stunting
3. Membuat laporan mini riset

Jumlah Pertemuan : 3JP (3 x 45 menit) 

Pengertian

Zat gizi menurut sains didefinisikan sebagai bahan/ikatan kimia yang diperlukan tubuh untuk menjalankan fungsinya diantaranya menghasilkan energi, membangun dan memelihara jaringan, serta mengatur proses-proses kehidupan dalam tubuh makhuk hidup. Menurut Supariasa et al. (2016) zat gizi merupakan unsur-unsur yang terdapat dalam makanan dan digunakan oleh tubuh untuk pertumbuhan, mempertahankan kesehatan, serta menyediakan tenaga untuk beraktivitas. Menurut Sediaoetama (2010) gizi (nutrisi) yaitu suatu proses organisme untuk menggunakan makanan yang dikonsumsi secara normal melalui proses digesti, absorpsi, transportasi, penyimpanan, metabolisme, dan pengeluaran zat-zat yang tidak digunakan untuk mempertahankan kehidupan, pertumbuhan, dan fungsi normal dari organ-organ. Sehingga secara umum, para ahli sepakat bahwa zat gizi adalah substansi organik dan anorganik dalam makanan yang menjadi penentu utama status kesehatan dan kualitas pertumbuhan manusia, khususnya pada masa remaja.

Pentingnya Gizi pada Masa Remaja (Pubertas)

Masa remaja merupakan periode "pacu tumbuh" (growth spurt) kedua setelah masa bayi, di mana terjadi perubahan fisik, hormonal, dan kognitif yang sangat pesat. Menurut Arisman (2010), kebutuhan gizi pada masa remaja mencapai puncaknya karena peningkatan tinggi badan dan berat badan yang signifikan disertai kematangan organ reproduksi. Aasupan zat gizi yang kurang pada periode ini tidak hanya menghambat pertumbuhan fisik, tetapi juga dapat memicu masalah jangka panjang. Soetjiningsih (2014) menekankan bahwa remaja membutuhkan asupan kalsium dan zat besi yang jauh lebih tinggi; kalsium diperlukan untuk kepadatan tulang maksimal guna mencegah osteoporosis di masa depan, sementara zat besi sangat vital untuk mendukung pembentukan sel darah merah, terutama bagi remaja putri yang mulai mengalami menstruasi. Kemenkes RI (2018) menyatakan bahwa gizi seimbang pada remaja merupakan investasi kesehatan jangka panjang untuk mencegah penyakit tidak menular (PTM) dan memastikan generasi mendatang lahir dalam kondisi sehat. Oleh karena itu, pemenuhan gizi yang tepat pada masa pubertas bukan sekadar tentang kenyang, melainkan tentang optimalisasi potensi genetik dan perlindungan kesehatan seumur hidup.

Zat Gizi Makro (Energi dan Pembangun Tubuh)

Zat gizi makro atau macronutrients adalah zat gizi yang dibutuhkan oleh tubuh dalam jumlah besar untuk menghasilkan energi dan menjaga fungsi fisiologis dasar. Kelompok ini terdiri dari tiga unsur utama, yaitu karbohidrat, protein, dan lemak. 

  1. Karbohidrat merupakan sumber energi utama bagi otak dan otot dalam beraktivitas, di mana setiap 1 gram karbohidrat menghasilkan energi sebesar 4 kkal. Contoh sumber karbohidrat antara lain nasi, jagung, gandum, ubi kayu, dan kentang. Terdapat 2 jenis karbohidrat yaitu karbohidrat simpleks (mudah diserap oleh tubuh) karena struktur molekul yang pendek contohnya tepung, gula murni, soda, minuman manis, dll. Sedangkan kabohidrat kompleks sulit untuk diserap oleh tubuh karena struktur molekul yang panjang contohnya sereal, sayuran, buah-buahan berserat, dll.
  2. Protein berfungsi sebagai zat pembangun yang memperbaiki jaringan sel yang rusak dan mendukung pertumbuhan massa otot; serupa dengan karbohidrat, 1 gram protein menyumbangkan energi sebesar 4 kkal. Sumber protein dapat diperoleh dari hewani (ikan, daging, telur) maupun nabati (tempe, tahu, kacang-kacangan). 
  3. Lemak berperan sebagai cadangan energi terbesar dan pelindung organ tubuh, dengan kepadatan energi mencapai 9 kkal per 1 gram lemak. Contoh sumber lemak diantaranya lemak nabati dan lemak hewani. Lemak Nabati berbagi menjadi lemak tak jenuh yang relatif baik untuk kesehatan meliputi alpukat, minyak zaitun, dan kacang-kacangan, sementara lemak jenuh banyak ditemukan pada santan dan gorengan. Adapun lemak hewani contohnya terdapat pada susu, daging, kulit, dll.

Pemahaman akan besaran kalori ini sangat penting bagi remaja untuk menjaga keseimbangan antara asupan makanan dengan energi yang dikeluarkan agar Indeks Massa Tubuh (IMT) tetap berada dalam rentang normal.

Pengertian Indeks Massa Tubuh (IMT)

Indeks Massa Tubuh (IMT), atau  Body Mass Index (BMI) merupakan alat ukur sederhana yang menggunakan rasio perbandingan antara berat badan dan tinggi badan untuk memperkirakan jumlah lemak tubuh pada seseorang. IMT digunakan secara luas oleh tenaga kesehatan untuk mengklasifikasikan status gizi seseorang ke dalam kategori kurus, normal, berat badan berlebih, hingga obesitas. Menurut Kemenkes RI (2014), IMT merupakan indikator yang murah dan mudah dilakukan untuk memantau status gizi orang dewasa maupun remaja, meskipun IMT tidak mengukur lemak tubuh secara langsung, namun hasilnya berkorelasi kuat dengan pengukuran lemak tubuh secara langsung.

Fungsi IMT bagi Remaja

Pada masa remaja, IMT memiliki peran krusial karena:

  1. Deteksi Dini Masalah Gizi: Mengidentifikasi apakah remaja tersebut berisiko mengalami gizi kurang (stunting/wasting) atau gizi lebih (obesitas).

  2. Pemantauan Pertumbuhan: Memastikan bahwa pertambahan berat badan remaja berjalan selaras dengan pertambahan tinggi badannya di masa pubertas.

  3. Pencegahan Penyakit: Remaja dengan IMT di atas normal memiliki risiko lebih tinggi terkena penyakit tidak menular seperti diabetes tipe 2 dan hipertensi di masa depan

Rumus IMT/BMI

Penting :

Untuk remaja (usia 5–19 tahun), angka hasil perhitungan IMT tidak bisa langsung disimpulkan seperti orang dewasa. Hasil tersebut harus diplotkan ke dalam Grafik IMT/Umur (Z-Score) untuk mendapatkan kesimpulan status gizi yang akurat, karena tubuh remaja masih mengalami pertumbuhan tulang dan otot yang dinamis (WHO, 2007).

Tabel 1. Rumus konvernsi perhitungan IMT terhadap Z Score

Tabel 2. Arti Kategori Status Gizi berdasarkan Z-Score

Tabel 3. Alternatif Tindakan yang diperlukan

Indeks Massa Tubuh (IMT) dan perhitungan kalori harian adalah dua instrumen yang saling berkaitan dalam menentukan strategi pencapaian status gizi yang optimal bagi remaja. IMT berfungsi sebagai alat evaluasi untuk mengetahui kondisi tubuh apakah sudah berada dalam rentang normal, kurang, atau berlebih, sedangkan perhitungan kalori berfungsi sebagai panduan asupan energi yang harus dikonsumsi untuk mencapai atau mempertahankan angka.

Perhitungan Kalori bagi Remaja 
Berdasarkan AKG (Angka Kecukupan Gizi) Kemenkes RI, rata-rata kebutuhan energi harian remaja akhir yaitu 
  • Laki-laki (16–18 th): 2.650 kkal/hari
  • Perempuan (16–18 th): 2.100 kkal/hari

BMR adalah energi yang dibutuhkan tubuh hanya untuk bertahan hidup (saat tidak beraktivitas).

  • Laki-laki: 66 + (13,7 X BB) + (5 X TB) - (6,8 X Usia)

  • Perempuan: 655 + (9,6 X  BB) + (1,8 X TB) - (4,7 X Usia

Kebutuhan kalori total saat beraktifitas yaitu BMR X Faktor Aktivitas

Tabel 4. Konversi nilai faktor sesuai kegiatan

Contoh :

Diandra seorang remaja perempuan usia 17 tahun, berat badan 50 kg, tinggi badan 160 cm. Dina cukup aktif berolahraga ringan. Berapakah total kebutuhan kalori untuk Diandra?

BMR :  = 655 + (9,6 X 50) + (1,8 X 160) - (4,7 X 17) = 1.343,1,kkal

Kalori Total = 1.343,1 X 1,375 = 1.846,7 kkal/hari

Menghitung kalori Praktis

Cara membaca Label Informasi Nilai Gizi. Misal, sebuah biskuit mengandung:

  • 10g Karbohidrat

  • 2g Protein

  • 5g Lemak

Cara Hitungnya:

  • Karbohidrat:10g X 4 = 40,kkal

  • Protein: 2g X 4 = 8,kkal

  • Lemak: 5g X 9 = 45 kkal

  • Total Kalori: 40 + 8 + 45 = 93 kkal


PROJECT (lakukan berkelompok dengan berpasangan)

  1. Identifikasi diri Anda dan 2 orang siswa diluar kelas Anda meliputi nama, kelas, usia, berat badan, tinggi badan, aktivitas dan cemilan yang paling sering dikonsumsi. Buat dalam bentuk tabel!
  2. Hitung IMT, BMR dan kebutuhan Kalori Total dari nomor 1
  3. Sajikan hasil perhitungan dalam sebuah tabel, dengan kolom terakhir diberikan rekomendasi berupa tindakan sebagaimana tabel 3
  4. Hitung jumlah kalori yang terdapat pada kemasan cemilan yang sering dikonsumsi oleh responden (apabila kemasan cemilan tidak ditemukan dapat search google atau hitung kalori dari salah satu cemilan snack kemasan yang ada di lingkungan sekolah)
  5. Buatkan prediksi dalam bentuk narasi jika cemilan tersebut sering dikonsumsi dalam jumlah yang banyak dan jangka panjang.
  6. Sampaikan hasil perhitungan yang telah dilakukan terhadap 2 rekan Anda yang tadi dan sampaikan rekomendasinya (dokumentasikan dalam bentuk foto)
  7. minta penilaian dari 2 orang responden Anda diserta tanda tangan, rentang penilaian 85 - 95





Selasa, 27 Mei 2025

PROJECT IPAS - INTERAKSI & DINAMIKA SOSIAL

ARTIKEL  POTENSI KONFLIK DI LINGKUNGAN SEKITAR

Tujuan PembelajaranMemahami dinamika dan problematika sosial
Kriteria Pencapaian Tujuan PembelajaranMenjelaskan konflik, penyimpangan dan pengendalian sosial

Narasumber :
Ketua RW atau Tokoh Masyarakat di Lingkungan masing-masing

Langkah Kerja :
  1. Menentukan narasumber yang akan diwawancarai
  2. Membuat instrumen berupa daftar pertanyaan 
  3. Membuat janji temu bersama narasumber
  4. Melaksanakan kegiatan wawancara bersama narasumber 
  5. Melakukan pendokumentasian berupa rekaman percakapan serta foto dan atau video
  6. Membuat laporan berupa artikel hasil dari wawancara

Sistematika pelaporan 
  1. Cover yang memuat judul, identitas mata pelajaran, logo sekolah identitas murid
  2. Lembar pengesahan yang memuat tanda tangan murid, Ketua RW atau Tokoh Masyarakat ( dicap)
  3. Tulisan artikel mulai dari Hasil Wawancara dan Analisis dari hasil wawancara berkenaan dengan pandangan dan solusi yang dapat ditawarkan dari hasil wawancara yang telah dilaksanakan.
  4. Kesimpulan
Laporan dibuat tulis tangan.

Rubrik Penilaian :
1. Waktu pengumpulan 2 pekan setelah informasi tugas diberikan (30%)
2. Kerapihan (10%)
3. Sistematika laporan (10%)
4. Pengesahan cap dan ttd (20%)
4. Analisis pelaporan (30%)

Senin, 09 September 2024

KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 3.3. PENGELOLAAN PROGRAM YANG BERDAMPAK PADA MURID

Pengelolaan program yang berdampak pada murid sebagai upaya dalam mengoptimalkan kemampuan murid. Melalui filosofi pendidikan Ki Hadjar Dewantara dan metafora "menumbuhkan padi" mengingakan kita mengenai proses pembelajaran yang seharusnya berpihak kepada murid melalui kegiatan secara sadar dan terencana untuk membangun ekosistem welbeing sehingga mampu mengembangkan potensi mereka sesuai dengan kodratnya.

A. Pemikiran reflektif terkait pengalaman belajar

Pengalaman/materi pembelajaran yang baru saja diterima berkenaan dengan pengelolaan program yang berdampak pada murid semakin menguatkan peran guru dalam mewujudkan kepemimpinan murid serta pembelajaran yang berpihak kepada murid dengan segala potensi yang dimiliki oleh para murid serta melalui proses pembelajaran yang menumbuhkembangkan Kompetensi Sosial Emosional pada siswa meliputi 1)kesadaran diri, 2) manajemen diri, 3) kesadaran sosial, 4) keterampilan berelasi, dan 5) pembuat keputusan yang bertanggungjawab secara bertahap menjadi sandaran bagi kita sebagai guru dalam proses Tranfer of Value.

Pemahaman tersebut membangun emosi-emosi yang dirasakan selama proses pembelajaran diantaranya kebahagiaan dalam mencoba membangun kepercayaan kepada para murid dalam menentukan keinginan proses belajar yang mereka inginkan serta kebebasan yang diberikan dilakukan sebagai bentuk kominten bagi mereka dalam menjalankan prosesnya dan hal tersebut menjadi sebuah kebanggaan bahwa para murid dapat melakukan seperti yang diharapkan jika mereka melakukan sesuai dengan "hati" sesuai dengan harapan mereka.

Pada proses pembelajaran, para murid dapat mempertahankan apa yang sudah baik menurut mereka dan menjadi sebuah komitmen bagi diri mereka sendiri sehingga tidak ada merasa "terpaksakan" saat belajar kendati tentunya hal ini memerlukan proses yang bertahap dengan segala karakter unik yang dimiliki oleh para murid sehingga sebagai guru memerlukan sebuah pemikiran yang matang dalam memberikan waktu bagi para murid untuk berproses terhadap diri mereka sendiri.

Beberapa hal yang perlu diperbaiki terkait keterlibatan para murid dalam proses belajarnya adalah kemampuan dalam memahami potensi baik minat maupun bakatnya juga termasuk memahami dirinya dalam kemampuan bidang akademiknya, sehingga para murid dapat fokus terhadap prioritas apa yang diharapkan oleh diri mereka sendiri sebagai bentuk "keyakinan diri" terhadap nilai positif yang dimiliki dan perlu untuk dikembangkan.

Implikasi dari apa yang sudah diyakini dan dilaksanakan oleh para murid tentunya berimbas terhadap kompetensi dan kematangan diri pribadi sebagai individu yang sudah mampu mengambil keputusan yang bertanggungjawab melalui proses negosiasi terhadap dirinya sendiri melalui kesadaran yang dimiliki serta negosiasi terhadap lingkungan sekitarnya yang mengasah kemampuan dan keterampilan sosialnya.

B. Analisis untuk Implementasi dalam konteks CGP

Sebenarnya apa yang dimaksud dengan Pengelolaan Program yang berdampak pada murid?

Pertanyaan ini muncul sebagai bentuk untuk mencari jawaban mengenai pentingnya pengembangan kompetensi para murid dalam keterlibatannya terhadap program-program baik intra kurikuler, ko kurikuler dan ekstrakurikuler yang dapat mendukung potensi kepemipinan bagi murid. Program yang mampu memberikan kesempatan kepada para murid dalam mengembangkan kapasitasnya dalam mengelola pembelajaran mereka sendiri. Mendorong kepemimpinan murid dapat membentuk karakter individu murid yang lebih bertanggung jawab, kontributif tetapi juiga mengasah kemampuan kolaboratif yang dapat dijadikan sebagai pengalaman bermakna yang mungkin dapat dirasakan kebermanfataannya secara luas.

Pemahaman materi terhadap apa yang sudah dipelajari oleh para murid seyogyanya dapat memiliki wawasan yang lebih luas ataupun "insight" baru dalam bidang keilmuan tertentu sehingga membantu para murid terhadap kondisi kontekstual yang ada di lingkungan sekolah.

Tantangan yang dihadapi dalam menumbuhkembangkan kepemimpinan murid di sekolah adalah keberagaman siswa yang banyak dengan berbagai karakter yang dimiliki termasuk latarbelakang para murid baik lingkungan keluarga maupun sosial masyarakat di sekitar tempat tinggalnya. Sehingga tentunya asesmen pra pembelajaran diperlukan bagi guru yang dapat dijadikan sebagai dasar bagi guru dalam membuat stratetegi pembelajaran melalui pendekatan atau model dan metode pembelajaran yang sesuai. Pengelolaan melalui pembelajaran terdiferensiasi diharapkan dapat menjembatani kebutuhan para murid dalam mengembangkan potensi belajarnya serta mampu memberikan kontribusi dirinya terhadap lingkungan belajarnya. Kolaborasi rekan sejawat diperlukan dalam menyamakan visi terhadap proses pembelajaran yang diharapkan bersama.

Dalam mewujudkan jawaban terhadap tantangan yang dimiliki tentunya kolaborasi internal sekolah melalui rekan sejawat yaitu MGMP ataupun di lingkungan yang lebih luas yaitu MGMP Kota maupun Provinsi dalam bentuk sharing praktik baik terhadap praktik-praktik kepemimpinan para murid.

3. Intisari materi

Kepemimpinan murid (student agency)  merupakan salah satu Upaya dalam mewujudkan Profil Pelajar Pancasila, yaitu beriman dan bertakwa serta berakhlak mulia, berkebinekaan global, mandiri, bergotong royong, bernalar kritis, dan kreatif. Para murid dapat diwujudkan melalui kepemimpinan dalam proses pembelajaran yang sebenarnya memiliki suara (voice), pilihan (choice), dan kepemilikan (ownership). Melalui suara, pilihan, dan kepemilikan para murid dapat mengembangkan kapasitas dirinya sebagai pemilik dalam proses belajarnya.

Tugas guru adalah menyediakan lingkungan yangdapat  menumbuhkan budaya agar para murid memiliki keleluasaan dalam menyampaikan suara, pilihan, dan kepemilikannya terhadap apa yang mereka pikirkan dan inginkan dengan direfleksikan melalui tindakan mereka. Karakteristik lingkungan yang dimaksudkan dalam menumbuhkembangkan kepemimpinan murid adalah 1) Menyediakan kesempatan untuk murid menggunakan pola pikir positif dan merasakan emosi yang positif, 2) Keterampilan berinteraksi sosial secara positif, 3) Keterampilan dalam proses pencapaian tujuan akademik maupun non-akademik, 4) Menerima dan memahami kekuatan diri, sesama, serta masyarakat dan lingkungan di sekitarnya, 5) Membuka wawasan menentukan dan menindaklanjuti tujuan, harapan atau mimpi yang manfaat dan kebaikannya melampaui pemenuhan kepentingan individu, kelompok, maupun golongan, 6) Menempatkan murid sedemikian rupa sehingga terlibat aktif dalam proses belajarnya sendiri, 7) Menumbuhkan daya lenting dan sikap tangguh murid untuk terus bangkit di tengah kesempitan dan kesulitan.

4. Membuat keterhubungan

Pengalaman masa lalu dalam proses pembelajaran memang dirasakan tingkat kepercayaan terhadap para murid memerlukan banyak pertimbangan, kekurang yakinan terhadap potensi para murid sebenarnya membuat kita terkadang kurang fokus dan lebih banyak mengevaluasi atau "trial n eror" terhadap metode pembelajaran yang disajikan dan cenderung para murid menjadi lebih pasif dan tujuan diharapkan sesuai dengan yang kita inginkan.

Setelah mempelajari dan mengimplementasikan materi-materi yang telah dipelajari selama mengikuti program guru penggerak ini lebih membuka mata hati dan mata diri kita terhadap makhluk ciptaan Allaah SWT yang telah diciptakan dengan segala bentuk kesempurnaannya dan saat penerapan dilakukan mulai dari memberikan kepercayaan kepada para murid dapat dijadikan sebagai bentuk rasa syukur atas kekuasaan Allaah SWT bahwasannya potensi para murid luar biasa dan memudahkan kita dalam berkolaborasi dengan para murid selama proses pembelajaran berlangsung, ketika para murid dilibatkan mulai dari perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi dengan memberikan kesempatan seluas-lulasnya kepada murid memiliki dampak yang cukup besar terhadap paradigma yang selama ini ada dalam benak diri. Para murid memiliki kemampuan serta tanggung jawab yang luar biasa terhadap apa yang mereka rancang dan dikerjakan, mereka lebih memahami mengenai arti tanggung jawab dan konsekuensi.

Modul 1.1. Filosofi Ki Hajar Dewantara yaitu Guru melalui peran strategisnya dalam menuntun segala kodrat yang dimiliki oleh anak-anak untuk mencapai kesejahteraan dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusaiaan sebagai individu sosial. Dalam pengelolaan program sekolah yang berdampak pada murid tentunya kita sebagai guru harus dapat melibatkan murid dan memperhatikan pengembangan potensi sesuai dengan kodrat alam dan kodrat zamannya melalui pengelolaan cipta, karsa, rasa, dan karya.

Modul 1.2. Nilai dan peran guru penggerak melalui Nilai-nilai dari seorang guru penggerak yaitu mandiri, reflektif, kolaboratif, inovatif dan berpihak pada murid tidak terlepas dari cita-cita mulia dalam mewujudkan Profil Pelajar Pancasila. Dalam menjalankan perannya, seorang guru tidak hanya cukup sebagai pemimpin pembelajaran di kelas, namun juga memiliki tanggung jawab sebagai pemimpin dalam pengelolaan program sekolah yang berpihak pada murid dalam mewujudkan kepemimpinan murid.

Modul 1.3.  Visi guru penggerak  dimana Guru tentunya memiliki visi yang mengarah kepada perubahan, baik perubahan di kelas atau perubahan di sekolah. Subjek perubahan visi yang dimaksudkan adalah para murid dengan menggunakan  pendekatan manajemen perubahan. Manajemen pendekatan perubahan disebut Inkuiri Apresiatif (IA). Dalam merencanakan dan mengelola program yang berdampak pada murid dilakukan dengan menggunakan pendekatan inkuiri apresiatif model BAGJA dengan memetakan aset atau sumber daya sekolah, dan mengembangkan aset atau potensi yang bisa dikembangkan untuk merencanakan program sekolah yang berdampak pada murid.

Modul 1.4.  Budaya Positif  berupa lingkungan yang dapat menumbuhkembangkan perkembangan potensi, minat dan profil belajar murid terutama kekuatan kodrat yang dimilikinya. Pemahaman mengenai hukuman, konsekuensi dan restitusi mampu menguatkan para guru dalam memahami terhadap pengembangan nilai-nilai budaya positif kepada para murid.

Modul 2.1. Pembelajaran untuk memenuhi kebutuhan belajar murid dimana para guru memaksimalkan potensi dalam pengelolaan kelas dengan keberpihakan kepada murid dengan menggunakan pembelajaran berdiferensiasi sebagai bentuk layanan “service excellent” dalam hal proses pembelajaran. Pembelajaran berdiferensiasi dapat menjadi salah satu solusi terhadap keberagaman karakteristik dan kecerdasan murid. Fokus pembelajaran tentunya pemenuhan terhadap kebutuhan belajar, minat dan profil belajar murid. Hal ini dilakukan untuk mengetahui aset atau kekuatan yang dimiliki oleh murid dalam mewujudkan pengembangan kompetensi yang diharapkan khususnya penguatan Profil Pelajar Pancasila.

Modul 2.2 Pembelajaran emosional dan sosial melalui paradigma pembelajaran bukan hanya terbatas pada transfer of knowledge tetapi juga tranfer of value Guru diharapkan mampu mengembangkan kompetensi sosial pada diri murid. Teknik kesadaran diri (mindfulness) menjadi strategi pengembangan lima kompetensi sosial emosional yang didasarkan pada program yang berpihak pada murid dan mewujudkan merdeka belajar dan budaya positif di sekolah.

Modul 2.3. Coaching untuk supervisi akademik  sebagai salah satu teknik atau strategi seorang pemimpin pembelajaran dalam  menuntun anak dan menggali potensi yang dimiliki oleh para murid.  Coaching juga memberikan keleluasaan bagi perkembangan para murid dalam menggali proses berpikir positif mengenai potensi yang dimiliki. Coaching memiliki tujuan utama dalam memberdayakan potensi yang dimiliki melalui diskusi rekan sejawat agar memperoleh pemahaman yang sama dalam menumbuhkan strategi dalam mengembangkan kepemimpinan murid untuk mencapai tujuan pendidikan yaitu keselamatan dan kebahagiaan anak setinggi-tingginya.

Modul 3.1. Pengambilan keputusan berdasarkan nilai-nilai kebajikan seorang pemimpin tentunya Guru sebagai seorang pemimpin pembelajaran diperlukan kemampuan dalam pengambilan Keputusan secara bijak yang berpihak pada murid. Dasar, prinsip, paradigma atau nilai dalam pengambilan keputusan harus konsisten, terutama berkaitan dengan dilema etika atau bujukan moral sehingga menghasilkan Keputusan yang  bertanggungjawab.

Modul 3.2. Pemimpin dalam pengelolaan sumber daya bahwa Guru sebagai pemimpin pembelajaran tentunya harus memiliki kemampuan dalam mengidentifikasi asset/modal  yang ada di sekolah, baik aset fisik maupun non fisik untuk keberlangsungan proses pembelajaran yang berpihak kepada murid. Dengan menggunakan pendekatan berbasis aset/kekuatan (asset based thinking) mampu mengoptimalkan potensi yang dimiliki oleh sekolah sebagai komunitas belajar, melalui paradigma berpikir positif yang dimiliki oleh sekolah terhadap aset yang dimiliki, maka pengelolaan program yang berdampak pada murid dapat terencana, terlaksana dan terevaluasi dengan benar melalui kolaborasi bersama.

Modul 3.3. Pengelolaan program yang berdampak positif pada murid sebagai modul terakhir yang menuntun para guru untuk memiliki pola pikir positif dalam mewujudkan kepemimpinan murid melalui pertimbangan-pertimbangan serta  kebijakan yang mendukung terhadap visi perubahan melalui dukungan 7 (tujuh) karakter lingkungan yang dimiliki.

 Informasi yang diperoleh mengenai program yang berdampak pada murid di luar bahan ajar CGP adalah melalui kegiatan sharing praktik baik yang dilaksanakan pada saat kunjungan studi banding antar sekolah, informasi kegiatan dari MGMP mata pelajaran lainnya, informasi yang diperoleh saat melakukan kolaborasi dan kerjasama kemitraan dengan lembaga atau instansi lain termasuk kemitraan industri bahwasannya potensi para murid yang merupakan Gen-Z cenderung memiliki update wawasan yang lebih cepat serta pola adaptasi terhadap teknologi yang lebih mudah mengadaptasi sehingga perlu kiranya hal tersebut dapat dioptimalkan dalam proses pembelajaran dengan segala kelebihan yang dimiliki oleh para murid sebagai bentuk pembelajaran sesuai dengan zamannya.

5. Presfektif terhadap Program yang berdampak kepada kepemimpinan murid

Program yang berdampak positif pada murid tentunya adalah program-program yang mampu melibatkan kepemimpinan murid (student agency) melalui kesempatan dengan mempromosikan suara, pilihan dan kepemilikan yang dimiliki oleh para murid sehingga dapat mewujudkan ekosistem sekolah yang wellbeing. Para murid dengan berbagai keragaman potensi dan bakat yang dimiliki tentunya dapat  tergali dan dituntun untuk mewujudkan kebahagian yang setinggi-tingginya.

Mengenalkan program atau kegiatan sekolah mulai dari perencanaan, pelaksanaan dan refleksi evaluasi dilakukan secara kolaboratif melalui pemberdayaan aset/kekuatan sumber daya yang dimiliki sekolah sehingga dapat memberikan dampak yang holistik bagi pengembangan potensi para murid.

Perencanaan program dapat dilaksanakan berlandaskan prinsip kolaboratif baik dengan para murid ataupun rekan sejawat melalui peruwjudkan karakteristik lingkungan  yang menumbuhkembangkan kepemimpinan murid berdasarkan 7 aset/modal yang dimiliki sekolah. Prakarsa perubahan diperlukan melalui  paradigma inkuiri apresiatif BAGJA sehingga dapat  memberikan ruang murid pada suara, pilihan dan kepemilikan.

Pelaksanaan program yang memberdayakan potensi murid sebagai pemimpin dapat diimplementasikan  dalam proses belajarnya sendiri. Murid mampu mempromosikan suara, pilihan, kepemilikan sendiri melalui proses yang memerdekakan sehingga para murid mampu menjadi seorang  agen perubahan dan guru menjadi mitra belajar yang baik bagi para murid melalui proses menuntun dan memberikan umpan balik atas capaian perkembangan belajar murid.

Evaluasi  program dapat dilakukan atas kesepakatan dan kolaborasi antara guru dan murid yang dilakukan mulai dari tahapan penilaian yang sistematis, berkala dan berkelanjutan dengan menghasilkan sebuah refleksi dan tindak lanjut yang jelas mengenai seberapa efektif dampak positif yang diharapkan dapat tercapai.



Rabu, 21 Agustus 2024

KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 3.2. PEMPIMPIN SEBAGAI PENGELOLA SUMBER DAYA

A. Implementasi Pengelolaan Sumber Daya oleh Pemimpin Pembelajar

Pemimpin Pembelajaran dalam Pengelolaan Sumber Daya merupakan seseorang yang bertanggung jawab terhadap pengelolaan sumber daya yang ada di lingkungan pembelajaran baik kelas, sekolah ataupun lingkungan masyarakat sekitar yang menunjang terhadap proses pembelajaran para murid meliputi sumber daya berupa aset-aset diantaranya manusia, fisik, lingkungan alam, finansial, sosial, agama dan budaya serta politik. Implementasi Pengelolaan Sumber bagi pemimpin pembelajar terdesripsikan melalui uraian di bawah ini :

1. Implementasi di Kelas

Sumber Daya di kelas meliputi komponen biotik sebagai aset manusia yaitu Guru dan siswa serta abiotik meliputi lingkungan kelas penataan ruangan kelas meliputi layout whiteboard, lemari, meja literasi, meja dan kursi Guru, meja dan kursi siswa, media peraga, pencahayaan, ruang gerak siswa. Keberagaman siswa menjadi aset bagi pengembangan pembelajaran di kelas dengan segala potensi berupa kodrat alam dan kodrat zaman yang dimiliki menentukan Guru dalam memberikan lingkungan alam yang ada sebagai aset penunjang dalam proses pembelajaran. Aset sosial dapat muncul dengan adanya keberagaman siswa berdasarkan latar belakang dapat sosial keluarga yang dapat membentuk sebuah iklim kelas yang baru dan menunjang terhadap kesepakatan kelas yang terjadi sehingga memunculkan  norma dan budaya yang beragam yang menjadi aset agama dan budaya yang dapat tercermin dari hasil cipta dan karya para siswa dalam menghadirkan sebuah unjuk karya pada mata pelajaran tertentu atau kolaborasi hasil mata pelajaran melalui project penguatan P5.

Aset finansial yang dapat diberdayakan di lingkungan kelas berupa kas kelas siswa yang diperuntukan untuk menunjang lingkungan belajar yang nyaman dan aman misalnya untuk kebersihan kelas, penataan ruangan kelas agar lebih indah.

Aset politik yang ada di kelas lebih kepada kebijakan dari sekolah mengenai ketertiban dan keamanan di kelas serta kesepakatan kelas yang dibuat untuk dipatuhi dan pemenuhan terhadap konsekuensi yang terjadi.

2. Implementasi di Sekolah

Aset sumber daya di sekolah memiliki cakupan yang luas daripada lingkungan kelas. Aset tersebut diantaranya 

  1. Aset Manusia meliputi Guru, Tenaga Kependidikan, Murid serta para Orangtua/Wali Murid yang dapat berperan dalam upaya pencapaian visi sekolah melalui keterlibatan secara langsung maupun tidak langsung dalam proses pembelajaran diantaranya Guru dapat berkolaborasi dengan tenaga kependidikan baik sebagai narasumber misalnya tukang kebun sebagai narasumber dalam pertumbuhan dan perkembangan makhluk hidup pada tumbuhan sekitar sekolah, murid sebagai subjek pembelajar yang memiliki peran paling penting dalam mewujudkan visi sekolah, bukan hanya itu orangtua sebagai aset kolaborasi dalam pertumbuhan dan perkembangan karakter para murid.
  2. Aset Sosial meliputi organisasi siswa baik OSIS, MPK, maupun ekstrakurikuler yang dapat mengembangkan kompetensi sosial dan emosional siswa, selain itu organisasi sosial kemasyarakatan di lingkungan sekolah misalnya karang taruna setempat dapat berkolaborasi dengan organisasi sekolah dalam kontrol sosial di lingkugan sekolah. Hal tersebut dapat menjadi sumber belajar pada mata pelajaran tertentu khususnya pada kegiatan project event kolaborasi antar mata  pelajaran.
  3. Aset Lingkungan alam sekolah dapat dijadikan sebagai diferensiasi lingkungan belajar ataupun sumber belajar bagi para murid selama proses pembelajaran berlangsung.
  4. Aset Finansial berupa bantuan operasional sekolah dari pemerintah pusat maupun daerah (BOS maupun BOPD) ataupun dana partisipasi masyarakat sebagai sumber pendanaan strategis dalam pengembangan kompetesi siswa baik dalam program reguler ataupun program terintegrasi antar mata pelajaran dalam sebuah project pembelajaran. Aset finansial lainnya yang dapat diberdayakan tentu saja Corporate Social Responsilbility (CSR) yang diperuntukan oleh perusahaan bagi pengembangan mutu pendidikan di sekolah. Sponsorship dapat menjadi salah satu pendanaan yang diperhitungkan dalam kolaborasi project antar mapel yang dapat membangun potensi sekolah secara luas.
  5. Aset Fisik berupa ruang pembelajaran teori, ruang praktik, laboratorium, toilet, masjid, lapangan, aksesibility, area parkir, taman, rooftop dan lainnya dapat dijadikan sebagai sarana penunjang utama dalam proses pembelajaran agar lebih efektif, nyaman serta aman bagi para murid.
  6. Aset Agama dan Budaya berupa keberagaman budaya yang mewujudkan toleransi antar umat beragama dapat memwujudkan nuansa pembelajaran yang agamis dan selaras dengan kebutuhan sekolah dengan menjunjung nilai-nilai kemanusiaan dan kesejahteraan. Budaya yang terbentuk di lingkungan sekolah baik berupa budaya 5S ataupun pembiasaan postif budaya kerja dapat mewujudkan karakter para murid sesuai dengan profil pelajar Pancasila. 
  7. Aset politik berupa kebijakan pemerintah pusat dan daerah ataupun organisasi lainnya yang memerhatikan perkembangan sekolah tentunya dapat dijadikan sebagai sebuah pertimbangan dalam pengambilan keputusan secara nyata untuk melihat dampak yang terjadi terhadap pembelajaran yang berpihak kepada murid. 

3. Implementasi di Masyarakat sekitar sekolah.

Pengelolaan sumber daya masyarakat sekitar sekolah sebagai aset lainnya yang menguatkan 7 aset sekolah dalam pengembangan proses pendidikan khususnya pembelajaran bagi murid diantaranya para stakeholder sebagai lembaga pemerintahan, komite sekolah, lembaga swadaya masyarakat, khususnya kemitraan industri yang dapat mendukung terhadap proses pembelajaran berbasis peningkatan kompetensi di jenjang sekolah menengah kejuruan atau SMK. 

Ketiga implementasi di atas sebagai bentuk perwujudan terhadap identifikasi potensi aset-aset di sekitar kita yang dapat diberdayakan secara optimal melalui kolaborasi sesuai dengan tingkat kepentingan dan prioritas yang diperluan dalam pengembangan visi yang akan dicapai.

B. Hubungan Pengelolaan Sumber Daya terhadap Proses Pembelajaran

Sekolah sebagai institusi moral tentunya dalam implementasinya guru bukan hanya melaksanakan transfer of knowledge tetapi juga harus difokuskan kepada transfer of value sehingga dalam perencanaan program pembelajaran perlu adanya interaksi serta kolaborasi dari beberapa unsur aset di sekolah yang perlu diidentifikasi sesuai dengan fungsi dan perannya, sehingga dapat dihasilkan tujuan yang selaras dengan visi sekolah melalui optimalisasi aset yang ada dan diharapkan proses pembelajaran para murid menjadi lebih berkualitas sehingga terbentuk para murid yang memiliki insan sesuai dengan karakter Profil Pelajar Pancasila.

Pengelolaan sumber daya yang tepat dan dapat mendorong pada proses pembelajaran di kelas menjadi lebih berkualitas diantaranya dengan Aset Manusia diantaranya  guru dan tenaga kependidikan yang memiliki memilihi hubungan secara langsung dalam peningkatan pembelajaran  tentunya sekolah dapat memfasilitasi guru untuk  kegiatan pengembangan diri melalui bimtek, diklat, workshop dan kegiatan lain yang mendukung kompetensi diri baik secara daring maupun luring.

Pengelolaan Aset Lingkungan Alam dengan dengan Aset Fisik akan saling berkorelasi terhadap peningkatan pembelajaran murid. Lingkungan sekolah yang kondusif dari segi sosial maupun politik akan menciptakan pembelajaran yang nyaman, menyenangkan dan berpihak pada murid yang tentunya berperan dalam peningkatan kualitas pembelajaran.

MGMP sekolah maupun MGMP antar sekolah sebagai salah satu Aset Sosial dalam upaya peningkatan kompetensi guru selain itu pula kolaborasi dengan Puskesmas untuk meningkatkan mutu kesehatan di sekolah.  Aset finansial dengan membuat rencana kerja anggaran sekolah (RKAS) sesuai prioritas dan kebutuhan sekolah sehingga mendukung untuk keberlangsungan proses pembelajaran manjadi lebih berkulitas. Aset politik berupa kerjasama atau kemitraan dengan instansi/dinas terkait yang di pemerintah daerah untuk mendukung program-program sekolah dan selanjutnya adalah Aset agama dan budaya melalui optimalisasi dalam melestarikan budaya kearifan lokal misal belajar tari tradisional dan kegiatan religi berupa pondok ramadhan, memperingati hari besar nasional keagamaan melibatkan tokoh agama disekitarnya.

Gambar. Dokumentasi Pribadi Kegiatan KKG

C. Keterkaitan materi Prasyarat dari Modul Sebelumnya

Pembelajaran pada modul ini tidak terlepas dari Modul-modul sebelumnya yang dapat menjadi identifikasi pengembangan sekolah melalui pendekatan berbasis Aset yang diadopsi dari Pendekatan Inkuiry Apresiatif. Hubungan antar modul dapat terdeskripsikan di bawah ini :

  1. Modul 1.1 tentang adanya refleksi filosofi Ki Hadjar Dewantara menjadi dasar mengenai arti pendidikan yang berpihak kepada murid dengan kodrat alam yang dimiliki sebagai keberagaman karakter serta potensi disesuaikan dengan kodrat zamannya dalam pengembangan kompetensi para murid baik secara hardskill maupun softskill sehingga para murid dipandang sebagai potensi sumber daya atau aset yang perlu bertumbuh dan berkembang secara optimal dalam mewujudkan tujuan pendidikan yang menjunjung nilai nilai kemanusiaan.
  2. Modul 1.2 tentang nilai dan peran Guru Penggerak dalam hal ini Guru secara umum sebagai aset manusia yang memiliki kompetensi dalam mengelola sebuah proses pembelajaran, merefleksikan, membuat inovasi, dan kreatifitas serta berkolaborasi dalam mendukung perannya sebagai pemimpin pembelajaran. Kompetensi ini sangat diperlukan dalam mewujudkan pendidikan yang berpihak kepada murid.
  3. Modul 1.3 tentang Visi Guru Penggerak dalam hal ini Guru secara umum dalam memandang para murid sebagai subjek dari Visi yang digagas melalui prakarsa perubahan melalui pendekatan berbasis Inkuiry Apresiatif melalui tahapan  BAGJA yang dapat dilakukan dalam optimalisasi sumber daya atau aset-aset yang diperlukan
  4. Modul 1.4 tentang Budaya Positif sebagai dapat dipandang sebagai aset sosial maupun budaya yang dapat dikembangkan dalam implementasi budaya sekolah yang mewujudkan ekosistem wellbeing.
  5. Modul 2.1 tentang Pembelajaran Berdiferensiasi sebagai salah satu bentuk kompetensi bagi guru sebagai aset yang diperuntukan dalam pengembangan kompetesi siswa melalui proses pembelajaran yang interaktif, inovatif, kolaboratif dengan memanfaatkan berbagai potensi sumber daya atau aset yang dimiliki oleh kelas ataupu sekolah baik karakter potensi murid, lingkungan fisik, lingkungan alam ataupun sosial dan budaya yang ada di lingkungan sekolah.
  6. Modul 2.2 tentang Keterampilan Sosial dan Emosional lebih berkaitan dengan adanya kemampuan dari seorang guru dalam hal terampil menjaga emosi dan sosial kepada murid maupun civitas academika dalam pemberdayaan potensi murid.
  7. Modul 2.3 tentang Coaching untuk Supervisi Akademik tentu juga adanya prinsip, Teknik hingga langkah-langkah coaching untuk dilakukan guru dengan adanya penggalian kemampuan dan kemandirian coachee sebagai aset sekolah dalam menyelesaikan masalahnya. Hal ini sangat berarti dalam pemberdayaan civitas academica untuk bisa berdaya di sekolah
  8. Modul 3.1 tentang Pengambilan Keputusan sebagai Pemimpin Pembelajaran sangat berkaitan dengan penerapan konsep, paradigma, dan nilai kebaikan bersama serta penerapan 9 langkah konsep pengambilan keputusan untuk pengelolaan aset sehingga dapat berjalan dengan lebih optimal.
D. Perubahan Pemikiran dalam Diri

                                        Gambar. Dokumentasi Pribadi Pembelajaran di lingkungan kantin sekolah

Sebelum belajar modul 3.2. mengenai pemimpin pembelajaran dalam pengelolaan sumber daya maka pola pikir kecenderungan berbasis kekurangan sehingga terkadang muncul rasa pesimisme dalam melaksanakan program kendati sebenarnya pada pembelajaran modul 1.3. mengenai visi Guru penggerak terlebih dahulu memahamikan mengenai pendekatan Inkuiri Apresiatif syang sudah mulai memunculkam pola pikir positif terhadap lingkungan sekolah yang ada tetapi dengan sudut pandang masih terbatas kepada salah satu fokus yaitu pengelolaan sumber daya terhadap Aset Manusia, tetapi setelah mempelajari modul 3.2. pola pikir dan sudut pandang lebih luas dan lebih detail terhadap identifikasi setiap potensi yang ada di lingkungan sekolah melalui pendekatan berbasis Aset atau PKBA sehingga dalam memandang sebuah permasalahan di sekolah khususnya di kelas identifikasi penyelesaian lebih mudah dengan melihat aset-aset yang teridentifikasi melalui fungsi, peran dan posisi.

Dari hal tersebut di atas dapat ditarik salah satu point bahwa sebagai pemimpin pembelajaran untuk dapat mengedepankan pola pikir berbasis kekuatan/aset yang dimiliki agar memperoleh semangat serta optimis terhadap visi dan tujuan yang ingin dicapai oleh seorang pemimpin pembelajar.