Selasa, 23 Juli 2024

KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 2.3. COACHING DALAM SUPERVISI AKADEMIK

A. Pengertian Supervisi Akademik

Supervisi akademik sebagai salah satu tugas dari Kepala Sekolah untuk memastikan bahwa pembelajaran berpihak kepada murid sebagaimana tertuang dalam standar proses pada Standar Nasional Pendidikan. Selain itu, Supervisi Akademik juga bertujuan untuk pengembangan kompetensi diri dalam setiap pendidik di sekolah sebagaimana tertuang dalam Standar Tenaga Pendidk pada Standar Nasional Pendidikan dengan Kriteria minimal kompetensi pendidikan meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, dan kompetensi profesional. 

Supervisi berasal dari kata "super dan vision", dalam KBBI super berarti tinggi, atas, sedangkan vision memiliki arti melihat, sehingga supervisi dapat diartikan melihat dari atas orang yang melihat itu mempunyai kemampuan yang lebih (tinggi) dari yang dilihat. Dari pengertian terebut maka Supervisi menurut Glickman merupakan serangkaian kegiatan membantu uru mengembangakn kememapuan mengelola proses pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran. Demikian pula menurut Sujana (2008), yang menyatakan bahwa supervisi akademik adalah menilai dan membina guru dalam rangka meningkatkan kualitas proses pembelajaran agar kompetensi peserta didik mencapai hasil yang optimal.

B. Paradigma Pendekatan Coaching

Supervisi Akademik menggunakan pendekatan Coaching sebagai salah satu langkah bagi guru dalam upaya peningkatan atau pemberdayaan kompetensi yang dimiliki khususnya dalam proses pembelajaran. International Coaching Federation (ICF) mendefinisikan bahwa coaching sebagai kemitraan antara coach dengan klien dalam suatu proses kreatif dan menggugah pikiran untuk menginspirasi klien untuk dapat memaksimalkan potensi pribadi dan profesional coachee.

Prinsip Coaching yang dikembangkan adalah 1) Kemitraan, 2) Proses Kreatif 3) Memaksimalkan Potensi. Coaching memiliki maksud untuk mengubah efektivitas pengambilan keputusan, paradigma berfikir, dan persepsi serta membiasakan refleksi dengan fokus tujuan meningkatkan dan membiasakan belajar mandiri, mengelola diri sendiri, memantau diri sendiri, serta memodifikasi diri sendiri. 

Adapun Kompetensi pengembangan dalam coaching yaitu :

  1. Kehadiran Penuh (Presence)
  2. Mendengarkan aktif
  3.  Mengajukan pertanyaan berbobot menggunakan RASA

  
Sumber :https://.melintas.id/pendidikan

RASA merupakan akronim dari Receive, Apreciate, Summarize, & Ask. Secara umum dapat diartikan
  1. Receive/Terima yaitu mendengarkan dengan seksama informasi yang disampaikan coachee dengan memperhatikan kata kunci yang diucapkan
  2. Apreciate/Apresiasi yaitu memberikan respon dengan bahasa verbal ataupun non verbal
  3. Summarize/Merangkum yaitu memastikan pemahaman coach sama dengan coacgee dengan memerhatikan kata kunci dari coachee
  4. Ask/Tanya yaitu dengan mengajukan pertanyaan berupa a) berdasarkan apa yang didengar dan dirangkum, b) membuat pemahaman coachee tentang situasinya, c) mengkonfirmasi atau menggali kata kunci atau emosi yang dirasakan, d) menggunakan format pertanyaan terbuka apa, bagaimana, seberapa, kapan, siapa atau dimana, e) menghindari penggunaan pertanyaan tertutup yaitu mengapa, apakah, sudahkah
C. Proses Coaching menggunakan prinsip Alur TIRTA

TIRTA merupakan satu model umum yang telah dikenal sangat luas dan banyak diaplikasikan yaitu GROW model yaitu Goal, Reality, Option,  & Will. Dari segi bahasa, TIRTA berarti ari mengalir dari hulu ke hilir sehingga sebagai coach salah satu peran penting adalah membantu coachee menyadari potensi yang dimiliki untuk mengembangkan kompetensi dirinya dan menjadi mandiri melalui pendampingan yang memberdayakan.

Sumber :https://.melintas.id/pendidikan

D. Peran Guru  Coach terkait Pembelajaran Berdiferensiasi dan PSE

Guru di sekolah memiliki peran penting dalam proses pembelajaran yang berpihak kepada murid. Peran guru sebagai menggunakan paradigma coach tentunya diharapkan mampu meningkatkan kemampuan/potensi guru dalam memberdayakan potensi para murid dengan memahami kebutuhan murid. Melalui proses coaching dapat memberikan gambaran mengenai potensi yang dimiliki oleh para murid untuk berkembang sesuai dengan harapannya. Dengan memahami kebutuhan murid melalui proses coaching dapat menumbuhkan rasa tanggung jawab bagi murid dalam menjalankan kesepakatan kelas ataupun sekolah serta guru dapat memberikan nuansa pembelajaran yang disesuaikan dengan kebutuhan belajar siswa mulai dari pemenuhan kesiapan belajar siswa, gaya belajar serta profil para murid. Dengan demikian memudahkan guru dalam membuat fokus pemetaan terhadap diferensiasi konten, proses dan produk. 

Dalam fungsinya guru sebagai coach untuk memberdayakan coachee dalam hal ini para murid juga berpengaruh terhadap pengembangan kompetensi sosial dan emosional para murid mulai dari membangkitkan kesadaran diri, pengelolaan/manajemen dri, kesadaran sosial, keterampilan relasi dan pengambilan keputusan yang bertanggungjawab terlebih proses coaching menggunakan Alur TIRTA yang memudahkan guru dalam membimbing proses coaching melalui pertanyaan yang mengalir sesuai dengan tahapannya. 

Selain bagi murid, proses coaching juga secara disadari mampu meningkatkan kompetensi sosial emosioal dalam mengembangkan pembelajaran sosial emosinal yang sejalan dengan pengembangan kompetensi coaching yaitu kehadiran penuh yang dapat diawali dengan proses mindfulness, mendengarkan aktif yaitu melatih manajemen diri dalam berempati serta kesadaran sosial dan relasi, serta mengajukan pertanyaan berbobot yang merupakan implementasi dari pembuat keputusan yang bertanggung jawab sebagai hasil respon dari mendengarkan dengan RASA.

E. Keterkaitan keterampilan coaching dengan pengembangan kompetensi sebagai pemimpin pembelajaran

Paradigma pendekatan coaching menjadi hal yang perlu dilatih sebagai pemimpin pembelajaran. Filosofi Pendidikan menurut Ki Hadjar Dewantara yaitu Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madya Mangunkarso, Tut Wuri Handayani sebagai landasan awal bagi guru untuk menjalankan fungsinya serta membangun kolaborasi dengan siswa selama pembelajaran berlangsung untuk mengoptimalkan para murid melalui olah rasa, olah karsa, olah raga, serta olah karya sehingga menghasilkan pembelajaran sesuai dengan yang diharapkan.

Melalui Coaching maka para guru dapat membentuk kedekatan emosional yang lebih responsif dengan pola pikir Growth Mindset untuk memunculkan potensi bagi para muridnya sehingga tercipta suasana pembelajaran yang aktif dan kondusif. Fokus terhadap siswa serta permasalahannya dapat membantu guru dalam menemukan iklim kelas yang aman,  nyaman serta meningkatnya kondisi wellbeing di kelas maupun di sekolah. 

Guru memiliki pengetahuan yang lebih luas mengenai profil murid serta kesiapan belajar murid sehingga guru mampu mengoptimalkan dirinya dalam mengelola kelas dengan baik menggunakan strategi pembelajaran serta metode pembelajaran yang tepat bagi kelasnya.

Dalam implementasinya proses coaching dalam supervisi akademik diharapkan mampu menjembatani proses pembelajaran yang berpihak kepada murid untuk mencapai visi sekolah secara umum dan menyeluruh.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar