Selasa, 18 Juni 2024

KONEKTIVITAS MODUL 2.1. PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI

Pembelajaran pada dasarnya merupakan sebuah proses untuk mengembangkan mencapai tujuan pendidikan sebagaimana Ki Hadjar Dewantara telah menyampaikan mengenai maksud dari Pendidkan yaitu menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada murid baik sebagai manusia maupun anggota masyarakat untuk mencapai kesemalatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya. Para murid sebagai manusia ciptaan Allaah SWT yang telah dikaruniakan dengan segala keunikan dan potensi yang dimiliki sesuai dengan kodrat serta lingkungan dan zamannya yang berbeda-beda. 

Dalam proses pendidikan maka guru sebagai pendidik seyogyanya dapat memahami kondisi perbedaan yang dimiliki oleh setiap murid sebagai manusia yang unik berasal dari keluarga dan lingkungan yang berbeda yang menunjukan identitas diri yang berbeda pula sehingga guru sebagai pendidik diharapkan mampu menjembatani kebutuhan pendidikan bagi para murid melalui proses pembelajaran yang dapat memenuhi perbedaan-perbedaan tersebut melalui kegiatan pembelajaran berdiferensiasi.

A. Pembelajaran Diferensiasi

Pembelajaran diferensiasi diartikan sebagai rangkaian keputusan masuk akal (common sense) yang dibuat oleh guru dengan berorientasi kepada kebutuhan murid. Keputusan yang dimaksudkan meliputi kurikulum yang diejawantahkan secara jelas melalui tujuan pembelajaran, cara merespon guru terhadap kebutuhan belajar, lingkungan belajar murid, manajemen kelas yang efektif serta penilaian yang berkelanjutan. Hal tersebut dapat tertuang dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).

Menurut Tomlison (2001) bahwa guru dapat mengelompokan kebutuhan belajar murid dalam 3 kategori/aspek yaitu 1) Kesiapan belajar, 2) Minat Murid, 3) Profil Belajar Murid.

1. Kesiapan Belajar melihat dari presfektif kontinum dengan mengadaptasi alat yang disebut Equilizer

Sumber : https://www.kompasiana.com/dwiastono13/6372ef6d08a8b55dc4352e24/cgp-coach-penerapan-pembelajaran-berdiferensiasi


Dengan penerapan 6 komponen yatu 
  1. Bersifat mendasar - Bersifat Transformatif (Apakah seorang murid mampu memikirkan dan menciptakan pemikiran baru dari bahan atau tugas yang diberikan?)
  2. Kongret - Abstrak (Apakah  seorang murid masih memerlukan alat bantu ataukah dapat mempelajari sesuatu yang lebih abstrak?)
  3. Sederhana - Kompleks (Apakah seorang murid mampu memecahkan satu masalah atau beberapa masalah dalam satu waktu?)
  4. Terstruktur - Terbuka (Apakah seorang murid memerlukan tahapan yang jelas dalam menyelesaikan masalah atau menggunakan kreativitas mereka?)
  5. Tergantung - Mandiri (Apakah seorang murid mampu bekerja secara mandiri atau masih memerlukan bantuan orang lain?)
  6. Lambat - Cepat (Apakah seorang murid mampu menyelesaikan masalah tepat waktu atau memerlukan waktu tambahan?)
2. Minat Murid
   Minat dapat dikatakan sebagai motivator bagi murid dalam proses pembelajaran. Minat itu sendiri terbagi dalam 2 presfetif yaitu Minat Situasioal yang melibatkan psikologis dari murid yang yang berikutnya adalah minat Individu yang menunjukan kecenderungan individu dalam mempelajari sesuatu dalam jangka waktu yang lama. 

3. Profil Belajar Murid
  Profil belajar murid dipengaruhi oleh 4 (empat) faktor yaitu lingkungan belajar murid, pengaruh budaya, gaya belajar murid (visual, audio, audiovisual) serta kecerdasan majemuk (visual - spasial, musical, boily-kinestetik, interpresonal, intrapersonal, verbal - linguistik, naturalis, logic-matematic)

Diferensiasi Pembelajaran meliputi :
  1. Diferensiasi Konten (Materi pembelajaran yang dipelajari oleh para murid
  2. Diferensiasi Proses (Cara/metode pembelajaran yang dilakukan oleh guru terhadap para murid untuk mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan)
  3. Diferensiasi Produk (Metode yang dilakukan oleh guru untuk mengetahui tingkat penguasaan murid dalam memahami konten yang diberikan.
B. Implementasi Pembelajaran Diferensiasi di Kelas

   Pembelajaran diferensiasi di kelas dapat diejawantahkan dalam bentuk Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) memulai dari identitas RPP, Tujuan Pembelajaran, Metode Pembelajaran, Media Pembelajaran, Sumber Pembelajaran, Kegiatan Proses Pembelajaran, serta Asesmen yang digunakan.  Asesmen Prapembelajaran atau yang sebelumnya dikenal sebagai asesmen diagnostik dapat dijadikan sebagai upaya pemenuhan kebutuhan belajar siswa mulai dari kesiapan belajar, minat, serta profil belajar siswa. 
   Dari hasil Asesmen Prapembelajaran guru dapat mengetahui sejauh mana para murid memiliki pengetahuan dasar mengenai konten materi yang akan dipelajari, selain itu pula guru berkolaborasi dengan guru BK ataupun kesiswaan untuk melihat hasil tes minat bakat murid ataupun data dapodik murid untuk melihat latar belakang siswa secara holistik sehingga dapat membantu guru dalam memulai kesiapan belajar siswa dan menentukan metode belajar serta lingkungan belajar yang tepat bagi para murid dalam proses pembelajaran.

Dokumentasi Pribadi

    Pada kondisi pembelajaran di tengah semester, guru dapat berkolaborasi dengan walikelas untuk memperoleh referensi baru mengenai kondisi murid terkini apabila dirasakan terdapat perubahan pribadi murid yang tidak biasa selama proses pembelajaran berlangsung.
    Salah satu hal terpenting bagi guru dalam mengimplementasikan pembelajaran diferensiasi di kelas adalah senantiasa melakukan refleksi terhadap proses pembelajaran yang telah dilakukan dan masukan dari murid.

C. Keterkaitan Pemenuhan Kebutuhan Belajar Murid dengan Capaian Hasil Belajar

Pembelajaran diferensiasi secara nyata mampu memberikan kebutuhan belajar murid dalam melaksanakan proses pembelajaran untuk mencapai hasil belajar yang optimal. Hasil belajar yang dimaksudkan bukan hanya sekedar hasil secara pengetahuan atau yang mengasah kepada kognitif tetapi bagaimana Olahrasa, Olahraga, Olahkarsa, dan Olahkarya dapat dioptimalkan dalam proses pembelajaran berdiferensiasi. Pencapaian utama dalam sebuah pendidikan melalui proses pembelajaran diferensiasi mampu mengoptimalkan pembentukan karakter Profil Pelajar Pancasila. 

Dokumentasi Pribadi

Visi yang diwujudkan dalam prakarsa perubahan untuk terwujudnya 6 (enam) dimensi dari Profil Pelajar Pancasila tentunya mengembalikan proses pembelajaran yang berpihak pada murid sehingga murid dalam melaksanakan pembelajaran dengan nyaman, aman, dan bahagia sehingga terbentuk ekosistem sekolah yang wellbeing.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar