Pemikiran Ki Hadjar Dewantara terhadap pendidikan dan pengajaran tidak
terlepas dari istilah murid yang diyakini sebagai makhluk yang diciptakan
dengan segala kekuatan yang dimiliki yang dikenal dengan kodrat alam dan kodrat
zaman. Pengertian murid cukup menarik perhatian saya dikarenakan pada awalnya
istilah murid yang saya fahami adalah setiap anak yang sedang menempuh
pendidikan formal di jenjang Taman Kanak-kanak dan juga Sekolah Dasar (SD),
sehingga diperoleh beberapa pengertian mengenai murid untuk lebih mengetahui
mengapa Ki Hadjar Dewantara menamakan anak sebagai murid.
Istilah murid pada beberapa literatur online diantaranya bahwa Murid menurut KBBI memiliki arti orang (anak) yang sedang berguru (belajar, bersekolah). Sedangkan menurut Engr Sayyid Khaim Husayn Nagawi yang diikuti oleh Abudin Nata menyebutkan bahwa kata murid berasal dari bahasa Arab yang artinya orang yang menginginkan (the willer). Abudin Nata menyimpulkan bahwa kata murid diartikan sebagai orang yang menghendaki untuk mendapat ilmu pengetahuan, keterampilan, pengalaman, dan kepribadian yang baik sebagai bekal hidupnya agar bahagia dunia dan akhirat dengan jalan belajar sungguh-sungguh.
Kedua istilah tersebut sejalan dengan kondisi kurikulum merdeka saat ini yang telah digulirkan sejak Tahun 2021 bahwa murid dijadikan sebagai subjek dalam pendidikan. Dalam Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 Tahun 2023 murid diistilahkan sebagai peserta didik yaitu anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan potensi diri melalui proses pembelajaran yang tersedia pada jalur, jenjang, dan jenis pendidikan tertentu.
Pada awalnya saya percaya bahwa murid atau peserta didik adalah sebagai
individu yang unik yang memiliki karakter yang berbeda-beda dengan segala
kelebihan yang telah dianugerahkan sehingga dalam pembelajaran dikelas guru
dtuntut untuk memberikan pembelajaran yang menarik tetapi terkadang memang
masih dirasakan bahwa saya sebagai guru relatif lebih dominan dibandingkan
dengan para murid selama pembelajaran berlangsung. Dengan adanya pemahaman
kembali mengenai arti pendidikan yang sebenarnya melalui kurikulum merdeka yang
digulirkan oleh Pemerintah dalam hal ini Kemendikbudristek semakin memberikan
pemahaman yang sebenarnya sebagai guru melalui filosofi Trikon " Ing
Ngarso Sung Tulodo, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani"
dimana fungsi guru adalah menuntun agar para murid dapat berkembang sebagaimana
kodrat alamnya yang didukung dengan pengembangan kodrat zaman.
Perubahan pola pemikiran dari makna pendidikan yang sebenarnya sejalan
dengan pemikiran Ki Hadjar Dewantara secara tidak sadar telah mengubah perilaku
saya dalam implementasi pembelajaran di kelas. Saya memahami bahwa setiap anak
berkembang sesuai dengan fase perkembangannya.Sebagaimana Ki Hadjar Dewantara
membuat pemetaan usia para murid ke dalam 3 (tiga) fasa yaitu Wiraga,
Wiraga Wirama, dan Wirama.
Fase perkembangan siswa SMK yaitu pada rentang usia 16 - 18 Tahun berada
pada fase/periode perkembangan ke 3 yang dikenal sebagai fase pembentukan budi
pekerti sehingga peralatan pendidikan yang diperlukan berupa tindakan dan
perilaku budi pekerti yang dapat terintegrasi melalui penerapan penguatan karakter melalui Profil Pelajar Pancasila. Hal ini memberikan gambaran bagaimana dalam proses
pembelajaran para guru dituntut untuk memposisikan para murid sebagamana
rentang usianya. Penerapan metode pembelajaran interaktif melalui pola dinamika
kelompok untuk memahami pembelajaran kontekstual terbukti cukup efektif dalam
memahamkan para murid mengenai peran dan fungsinya dalam kelompok di kelas
ataupun di lingkungan sekolah.
Penerapan metode interaktif tidak terlepas dari lingkungan belajar yang diperoleh oleh para murid yang tidak selalu belajar berada di dalam ruangan kelas ataupun laboratorium praktik. Penawaran lingkungan belajar serta metode belajar yang digunakan lebih seringnya merupakan fasilitasi kesepakatan kelas yang sengaja diubah pada setiap pergantian materi pokok bahasan dengan harapan bahwa para murid dapat memiliki tanggungjawab atas apa yang mereka inginkan dalam melaksanakan pembelajaran dan menerima konsekuensi sesuai dengan kesepakatan yang telah dibuat. Hal ini sebagai upaya perwujudan dari pemikiran Ki Hadjar Dewantara bahwa pendidikan berpihak kepada murid.
Gb. Pembelajaran di area halaman taman purnama di awal pembelajaran
Sumber :
1. htpps://kbbi.web.id
2. htpps://gtk.kemdikbud.go.id/
3. htpps://makalahonline.com
4. Dokumentasi Pribadi
.jpeg)

