Rabu, 27 Maret 2024

Kesimpulan & Refleksi Terhadap Pemikiran-Pemikiran Ki Hadjar Dewantara

 

Pemikiran Ki Hadjar Dewantara terhadap pendidikan dan pengajaran tidak terlepas dari istilah murid yang diyakini sebagai makhluk yang diciptakan dengan segala kekuatan yang dimiliki yang dikenal dengan kodrat alam dan kodrat zaman. Pengertian murid cukup menarik perhatian saya dikarenakan pada awalnya istilah murid yang saya fahami adalah setiap anak yang sedang menempuh pendidikan formal di jenjang Taman Kanak-kanak dan juga Sekolah Dasar (SD), sehingga diperoleh beberapa pengertian mengenai murid untuk lebih mengetahui mengapa Ki Hadjar Dewantara menamakan anak sebagai murid.  

Istilah murid pada beberapa literatur online diantaranya bahwa Murid menurut KBBI memiliki arti orang (anak) yang sedang berguru (belajar, bersekolah). Sedangkan menurut Engr Sayyid Khaim Husayn Nagawi yang diikuti oleh Abudin Nata menyebutkan bahwa kata murid berasal dari bahasa Arab yang artinya orang yang menginginkan (the willer). Abudin Nata menyimpulkan bahwa kata murid diartikan sebagai orang yang menghendaki untuk mendapat ilmu pengetahuan, keterampilan, pengalaman, dan kepribadian yang baik sebagai bekal hidupnya agar bahagia dunia dan akhirat dengan jalan belajar sungguh-sungguh. 

Kedua istilah tersebut sejalan dengan kondisi kurikulum merdeka saat ini yang telah digulirkan sejak Tahun 2021 bahwa murid dijadikan sebagai subjek dalam pendidikan. Dalam Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 Tahun 2023 murid diistilahkan sebagai peserta didik yaitu anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan potensi diri melalui proses pembelajaran yang tersedia pada jalur, jenjang, dan jenis pendidikan tertentu.

Pada awalnya saya percaya bahwa murid atau peserta didik adalah sebagai individu yang unik yang memiliki karakter yang berbeda-beda dengan segala kelebihan yang telah dianugerahkan sehingga dalam pembelajaran dikelas guru dtuntut untuk memberikan pembelajaran yang menarik tetapi terkadang memang masih dirasakan bahwa saya sebagai guru relatif lebih dominan dibandingkan dengan para murid selama pembelajaran berlangsung. Dengan adanya pemahaman kembali mengenai arti pendidikan yang sebenarnya melalui kurikulum merdeka yang digulirkan oleh Pemerintah dalam hal ini Kemendikbudristek semakin memberikan pemahaman yang sebenarnya sebagai guru melalui filosofi Trikon " Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani" dimana fungsi guru adalah menuntun agar para murid dapat berkembang sebagaimana kodrat alamnya yang didukung dengan pengembangan kodrat zaman.

Perubahan pola pemikiran dari makna pendidikan yang sebenarnya sejalan dengan pemikiran Ki Hadjar Dewantara secara tidak sadar telah mengubah perilaku saya dalam implementasi pembelajaran di kelas. Saya memahami bahwa setiap anak berkembang sesuai dengan fase perkembangannya.Sebagaimana Ki Hadjar Dewantara membuat pemetaan usia para murid ke dalam 3 (tiga) fasa yaitu Wiraga, Wiraga Wirama, dan Wirama.

Fase perkembangan siswa SMK yaitu pada rentang usia 16 - 18 Tahun berada pada fase/periode perkembangan ke 3 yang dikenal sebagai fase pembentukan budi pekerti sehingga peralatan pendidikan yang diperlukan berupa tindakan dan perilaku budi pekerti yang dapat terintegrasi melalui penerapan penguatan karakter melalui Profil Pelajar Pancasila. Hal ini memberikan gambaran bagaimana dalam proses pembelajaran para guru dituntut untuk memposisikan para murid sebagamana rentang usianya. Penerapan metode pembelajaran interaktif melalui pola dinamika kelompok untuk memahami pembelajaran kontekstual terbukti cukup efektif dalam memahamkan para murid mengenai peran dan fungsinya dalam kelompok di kelas ataupun di lingkungan sekolah. 

Penerapan metode interaktif tidak terlepas dari lingkungan belajar yang diperoleh oleh para murid yang tidak selalu belajar berada di dalam ruangan kelas ataupun laboratorium praktik. Penawaran lingkungan belajar serta metode belajar yang digunakan lebih seringnya merupakan fasilitasi kesepakatan kelas yang sengaja diubah pada setiap pergantian materi pokok bahasan dengan harapan bahwa  para murid dapat memiliki tanggungjawab atas apa yang mereka inginkan dalam melaksanakan pembelajaran dan menerima konsekuensi sesuai dengan kesepakatan yang telah dibuat. Hal ini sebagai upaya perwujudan dari pemikiran Ki Hadjar Dewantara bahwa pendidikan berpihak kepada murid.

Gb. Pembelajaran di area halaman taman purnama di awal pembelajaran 

berdiskusi mengenai kesepakatan kelas untuk teknik presentasi

Kesepakatan kelas yang dibuat juga mengarahkan agar para murid dapat saling menghargai dan menghormati selama presentasi dilaksanakan dengan menjunjung tinggi keragaman pendapat sebagai sebuah ilmu baru dan setiap orang wajib untuk berpendapat selama pembelajaran berlangsung.


Gb. Pelaksanaan diskusi  area halaman taman purnama sesuai hasil kesepakatan

Banyak hal yang berubah dalam diri saya sejak mengenal kurikulum merdeka khususnya pemikiran Ki Hadjar Dewantara mengenai kearifan lokal, hal tersebut saya terapkan dalam kegiatan pembelajaran baik pada saat ice breaking, game pembentukan kelompok, ataupun penamaan dan  pembuatan yel-yel kelompok sebagai contoh kelompok Peuyem Bandung, Colenak, dll dengan yel-yel yang berkenaan dengan filosofi peuyeum atau lagu khas daerah tentang nama kelompok tersebut.


Gb. Presentasi yel-yel kelompok dengan area lingkungan belajar menggunakan area parkir depan

Sebagaimana pemikiran dari Ki Hadjar Dewantara mewujudkan pendidikan yang membahagiakan lahir dan bathin sehingga pembelajaran yang dilaksanakan diharapkan dapat memperoleh kepuasan terhadap guru maupun murid sesuai dengan kesepakatan belajar yang disepakati bersama.


Dalam sebuah pendidikan bukan hasil akademik yang menjadi tujuan utama tetapi bagaimana pendidikan dapat dinikmati oleh para murid sebagai sebuah proses yang dapat mendewasakan dan bermakna dalam kehidupan para murid sehingga bermanfaat baik bagi dirinya sendiri dan juga orang lain dan sebagai guru yang telah memiliki pengalaman hidup lebih lama dibandingkan dengan para murid diharapkan dapat menjalankan pendidikan sebagai sebuah proses belajar dalam memahami para murid untuk mengembangkan potensi yang telah dianugerahkan  sesuai dengan fase waktu dan kebutuhannya karena hidup adalah proses belajar mengenai kehidupan.


 Sumber :

1. htpps://kbbi.web.id

2.  htpps://gtk.kemdikbud.go.id/

3. htpps://makalahonline.com

4. Dokumentasi Pribadi








Tidak ada komentar:

Posting Komentar