Capaian Pembelajaran :
Peserta didik mampu menerjemahkan data dan bukti dari berbagai sumber seperti tabel hasil, grafik, atau sumber data lain untuk membangun sebuah argumen dan dapat mempertahankan argumen tersebut dengan penjelasan ilmiah, mengomunikasikan proses dan hasil, dan melakukan refleksi diri terhadap tahapan kegiatan yang dilakukan.
Tujuan Pembelajaran :
2. Membuat Project implementasi pemahamann zat gizi bagi tubuh sebagai upaya pencegahan stunting
3. Membuat laporan mini riset
Jumlah Pertemuan : 3JP (3 x 45 menit)
Pengertian
Zat gizi menurut sains didefinisikan sebagai bahan/ikatan kimia yang diperlukan tubuh untuk menjalankan fungsinya diantaranya menghasilkan energi, membangun dan memelihara jaringan, serta mengatur proses-proses kehidupan dalam tubuh makhuk hidup. Menurut Supariasa et al. (2016) zat gizi merupakan unsur-unsur yang terdapat dalam makanan dan digunakan oleh tubuh untuk pertumbuhan, mempertahankan kesehatan, serta menyediakan tenaga untuk beraktivitas. Menurut Sediaoetama (2010) gizi (nutrisi) yaitu suatu proses organisme untuk menggunakan makanan yang dikonsumsi secara normal melalui proses digesti, absorpsi, transportasi, penyimpanan, metabolisme, dan pengeluaran zat-zat yang tidak digunakan untuk mempertahankan kehidupan, pertumbuhan, dan fungsi normal da
Pentingnya Gizi pada Masa Remaja (Pubertas)
Masa remaja merupakan periode "pacu tumbuh" (growth spurt) kedua setelah masa bayi, di mana terjadi perubahan fisik, hormonal, dan kognitif yang sangat pesat. Menurut Arisman (2010), kebutuhan gizi pada masa remaja mencapai puncaknya karena peningkatan tinggi badan dan berat badan yang signifikan disertai kematangan organ reproduksi. Aasupan zat gizi yang kurang pada periode ini tidak hanya menghambat pertumbuhan fisik, tetapi juga dapat memicu masalah jangka panjang. Soetjiningsih (2014) menekankan bahwa remaja membutuhkan asupan kalsium dan zat besi yang jauh lebih tinggi; kalsium diperlukan untuk kepadatan tulang maksimal guna mencegah osteoporosis di masa depan, sementara zat besi sangat vital untuk mendukung pembentukan sel darah merah, terutama bagi remaja putri yang mulai mengalami menstruasi. Kemenkes RI (2018) menyatakan bahwa gizi seimbang pada remaja merupakan investasi kesehatan jangka panjang untuk mencegah penyakit tidak menular (PTM) dan memastikan generasi mendatang lahir dalam kondisi sehat. Oleh karena itu, pemenuhan gizi yang tepat pada masa pubertas bukan sekadar tentang kenyang, melainkan tentang optimalisasi potensi genetik dan perlindungan kesehatan seumur hidup.
Zat Gizi Makro (Energi dan Pembangun Tubuh)
Zat gizi makro atau macronutrients adalah zat gizi yang dibutuhkan oleh tubuh dalam jumlah besar untuk menghasilkan energi dan menjaga fungsi fisiologis dasar. Kelompok ini terdiri dari tiga unsur utama, yaitu karbohidrat, protein, dan lemak.
- Karbohidrat merupakan sumber energi utama bagi otak dan otot dalam beraktivitas, di mana setiap 1 gram karbohidrat menghasilkan energi sebesar 4 kkal. Contoh sumber karbohidrat antara lain nasi, jagung, gandum, ubi kayu, dan kentang. Terdapat 2 jenis karbohidrat yaitu karbohidrat simpleks (mudah diserap oleh tubuh) karena struktur molekul yang pendek contohnya tepung, gula murni, soda, minuman manis, dll. Sedangkan kabohidrat kompleks sulit untuk diserap oleh tubuh karena struktur molekul yang panjang contohnya sereal, sayuran, buah-buahan berserat, dll.
- Protein berfungsi sebagai zat pembangun yang memperbaiki jaringan sel yang rusak dan mendukung pertumbuhan massa otot; serupa dengan karbohidrat, 1 gram protein menyumbangkan energi sebesar 4 kkal. Sumber protein dapat diperoleh dari hewani (ikan, daging, telur) maupun nabati (tempe, tahu, kacang-kacangan).
- Lemak berperan sebagai cadangan energi terbesar dan pelindung organ tubuh, dengan kepadatan energi mencapai 9 kkal per 1 gram lemak. Contoh sumber lemak diantaranya lemak nabati dan lemak hewani. Lemak Nabati berbagi menjadi lemak tak jenuh yang relatif baik untuk kesehatan meliputi alpukat, minyak zaitun, dan kacang-kacangan, sementara lemak jenuh banyak ditemukan pada santan dan gorengan. Adapun lemak hewani contohnya terdapat pada susu, daging, kulit, dll.
Pengertian Indeks Massa Tubuh (IMT)
Indeks Massa Tubuh (IMT), atau Body Mass Index (BMI) merupakan alat ukur sederhana yang menggunakan rasio perbandingan antara berat badan dan tinggi badan untuk memperkirakan jumlah lemak tubuh pada seseorang. IMT digunakan secara luas oleh tenaga kesehatan untuk mengklasifikasikan status gizi seseorang ke dalam kategori kurus, normal, berat badan berlebih, hingga obesitas. Menurut Kemenkes RI (2014), IMT merupakan indikator yang murah dan mudah dilakukan untuk memantau status gizi orang dewasa maupun remaja, meskipun IMT tidak mengukur lemak tubuh secara langsung, namun hasilnya berkorelasi kuat dengan pengukuran lemak tubuh secara langsung.
Fungsi IMT bagi Remaja
Pada masa remaja, IMT memiliki peran krusial karena:
Deteksi Dini Masalah Gizi: Mengidentifikasi apakah remaja tersebut berisiko mengalami gizi kurang (stunting/wasting) atau gizi lebih (obesitas).
Pemantauan Pertumbuhan: Memastikan bahwa pertambahan berat badan remaja berjalan selaras dengan pertambahan tinggi badannya di masa pubertas.
Pencegahan Penyakit: Remaja dengan IMT di atas normal memiliki risiko lebih tinggi terkena penyakit tidak menular seperti diabetes tipe 2 dan hipertensi di masa depan
Penting :
Untuk remaja (usia 5–19 tahun), angka hasil perhitungan IMT tidak bisa langsung disimpulkan seperti orang dewasa. Hasil tersebut harus diplotkan ke dalam Grafik IMT/Umur (Z-Score) untuk mendapatkan kesimpulan status gizi yang akurat, karena tubuh remaja masih mengalami pertumbuhan tulang dan otot yang dinamis (WHO, 2007).
- Laki-laki (16–18 th): 2.650 kkal/hari
Perempuan (16–18 th): 2.100 kkal/hari
Laki-laki: 66 + (13,7 X BB) + (5 X TB) - (6,8 X Usia)
Perempuan: 655 + (9,6 X BB) + (1,8 X TB) - (4,7 X Usia
Contoh :
Diandra seorang remaja perempuan usia 17 tahun, berat badan 50 kg, tinggi badan 160 cm. Dina cukup aktif berolahraga ringan. Berapakah total kebutuhan kalori untuk Diandra?
BMR : = 655 + (9,6 X 50) + (1,8 X 160) - (4,7 X 17) = 1.343,1,kkal
Kalori Total = 1.343,1 X 1,375 = 1.846,7 kkal/hari
Menghitung kalori Praktis
Cara membaca Label Informasi Nilai Gizi. Misal, sebuah biskuit mengandung:
10g Karbohidrat
2g Protein
5g Lemak
Cara Hitungnya:
Karbohidrat:10g X 4 = 40,kkal
Protein: 2g X 4 = 8,kkal
Lemak: 5g X 9 = 45 kkal
Total Kalori: 40 + 8 + 45 = 93 kkal
- Identifikasi diri Anda dan 2 orang siswa diluar kelas Anda meliputi nama, kelas, usia, berat badan, tinggi badan, aktivitas dan cemilan yang paling sering dikonsumsi. Buat dalam bentuk tabel!
- Hitung IMT, BMR dan kebutuhan Kalori Total dari nomor 1
- Sajikan hasil perhitungan dalam sebuah tabel, dengan kolom terakhir diberikan rekomendasi berupa tindakan sebagaimana tabel 3
- Hitung jumlah kalori yang terdapat pada kemasan cemilan yang sering dikonsumsi oleh responden (apabila kemasan cemilan tidak ditemukan dapat search google atau hitung kalori dari salah satu cemilan snack kemasan yang ada di lingkungan sekolah)
- Buatkan prediksi dalam bentuk narasi jika cemilan tersebut sering dikonsumsi dalam jumlah yang banyak dan jangka panjang.
- Sampaikan hasil perhitungan yang telah dilakukan terhadap 2 rekan Anda yang tadi dan sampaikan rekomendasinya (dokumentasikan dalam bentuk foto)
- minta penilaian dari 2 orang responden Anda diserta tanda tangan, rentang penilaian 85 - 95
Tidak ada komentar:
Posting Komentar